bc

Menggoda Duda Teman Papa

book_age18+
357
IKUTI
2.0K
BACA
billionaire
age gap
heir/heiress
bxg
kicking
like
intro-logo
Uraian

“Aku akan menikahi Jandita.”Kalimat itu mengguncang ruangan kerja Dewangga yang lengang. Hanya karena pengakuan gila Jandita–anak sahabatnya Jatmiko–yang mengaku telah tidur dengannya. Jandita hanya berniat balas dendam pada Tara–anak Dewangga– yang merebut kekasihnya, tapi satu kebohongan keluar dari mulutnya, tanpa berpikir, tanpa tahu konsekuensinya. Dia mengaku telah tidur dengan Dewangga.Seharusnya Dewangga menolak. Seharusnya ia marah. Namun, pria dingin itu justru berdiri di depan semua orang dan memutuskan sesuatu yang bahkan tak masuk akal baginya sendiri.Dan kini, langkah mundur sudah bukan pilihan lagi.Ketika sebuah kebohongan kecil berubah menjadi ikatan yang tak bisa dipatahkan, akankah rencana balas dendam tetap dilanjutkan?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Teman Makan Teman
“Aku cinta kamu, Ken.” Bisikan itu terdengar jelas dari balik pintu apartemen Kendra. Bersahutan dengan napas memburu dan erangan kecil yang menyeret imajinasi siapa pun yang mendengarnya. Dua suara yang seharusnya tidak pernah berdampingan, kini melebur dalam satu irama penuh gairah. Jandita berdiri kaku di depan pintu, jemarinya meremas buket bunga yang tadi dengan bodohnya ia pesan untuk ulang tahun kekasihnya. Tak ada tangisan. Tak ada teriakan kencang, yang ada hanya tatapan kosong yang perlahan retak saat kenyataan menghantamnya tanpa ampun. Sahabat dan kekasihnya sedang menusuk dari belakang secara harfiah. “Sialan. Jadi ini rahasia yang kalian simpan,” bisiknya pada diri sendiri, napas Jandita bergetar oleh amarah yang ia tahan mati-matian. Ia membuang napas panjang, lalu mendorong pintu apartemen dengan kasar. Suara pintu yang terentak membuat dua orang yang ia percayai sepenuh hati itu sontak menoleh. Kaget dan tergagap. “Wah, lagi asyik rupanya?” ujar Jandita, suaranya datar, tapi tajam seperti pecahan kaca. Ia masuk setelah sempat menenangkan diri beberapa detik di depan pintu. Kendra terlonjak. Wajahnya yang tadi larut dalam kenikmatan kini pucat pasi. Tangannya sigap mengancing kemeja yang hampir tanggal. Ia menjauh dari tubuh Tara yang masih terempas di sofa dengan tampilan berantakan. Rambut acak-acakan, bibir bengkak bekas ciuman, dan pakaian yang hampir tanggal. Namun, bukannya malu, Tara justru mengangkat sudut bibirnya dalam senyum kecil yang menusuk lebih dalam dari apa pun. “Jandita, aku bisa jelaskan. Ini semua nggak seperti yang kamu pikirkan,” ucap Kendra, berusaha meraih kembali ikatan yang sudah terlepas jauh dari genggamannya. Ia membenarkan kemejanya, lalu melangkah mendekat, tangannya terulur memohon maaf, tapi Jandita menepisnya kasar karena merasa jijik dengan pria itu. “Memangnya apa yang aku pikirkan?” balas Jandita, masih dengan ekspresi tenang. Namun matanya seperti kilatan. “Mengenai perilaku binatang kalian yang mengkhianatiku dari belakang? Hah? Sejak kapan?” “Jandita, aku sama Tara … aku cuma terbawa suasana. Tolong percaya sama aku,” kata Kendra. Suaranya terdengar putus-putus. Namun alasan itu justru membuat Jandita ingin tertawa. Terbawa suasana? Untuk sesuatu yang dilakukan berulang kali dan dengan kesadaran penuh? Betapa rendahnya kedua orang itu, batin Jandita. Ia menatap Tara nyalang. Gadis yang selama ini ia anggap saudara dan sahabat. Orang yang dia percaya sepenuh hati. Namun Tara sama sekali tidak tampak merasa bersalah. Ia hanya berdiri, merapikan pakaiannya seadanya, tanpa berniat meminta maaf atau memberi penjelasan. “Jadi begini akhir dari persahabatan kita, Tara?” tanya Jandita, napasnya mulai tak beraturan. “Hanya karena sampah nggak berguna ini kamu rela jadi pengkhianat?” Tara tersenyum. Terlihat santai dan menyakitkan bagi Jandita. Ia mendekat beberapa langkah, memainkan rambutnya dengan sikap seolah-olah dialah pemenangnya. Seakan-akan dia tidak pernah melakukan kesalahan fatal. “Iya. Aku capek jadi bayang-bayang kamu terus, Jan. Jadi ranking kedua di SMA. Nomor dua di kampus. Bahkan soal cinta, laki-laki selalu tertuju padamu. Aku kurang apa?” suaranya meninggi, tapi juga mengempaskan dengan kasar. “Jadi, udahlah. Nggak perlu drama. Hubungan kamu dan Kendra udah lama hancur. Dia juga udah capek sama kamu.” Jandita tertawa kecil. Rasanya getir dan hambar. Tawa seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia sudah memeluk duri begitu lama tanpa pernah curiga. Hingga pada akhirnya malah menyakiti dirinya sendiri dari dalam. “Oke,” katanya akhirnya. “Pungut sampah yang udah aku buang. Lupakan persahabatan kita.” Jandita melempar buket bunga ke tubuh Kendra. Buket yang tadi ia beli dengan hati yang penuh cinta dan niat tulus. Buket itu jatuh setelah membentur d**a Kendra, menyisakan jejak pahit pada malam yang seharusnya menjadi malam perayaan ulang tahunnya. Mereka telah bersama cukup lama. Akan tetapi semuanya berubah ketika Tara menawarkan hal-hal yang lebih liar. Hal-hal yang selama ini sengaja dihindari Jandita demi menjaga hubungan tetap sehat. Kendra, dengan kelemahannya pada godaan, tidak bisa mengendalikan diri. Jandita menutup pintu apartemen dengan keras. Napasnya memburu. Tubuhnya bergetar. Namun ia memaksa kedua kakinya tetap tegak. Di lorong yang sepi, ia tersenyum kecil. Senyum pahit yang terbit dari luka paling dalam yang disebabkan oleh dua orang yang ia sayang. “Mereka cuma sampah,” gumamnya. “Aku nggak akan pernah menangisi hal menjijikkan seperti itu.” Namun nyatanya, setelah meninggalkan apartemen itu, langkah Jandita membawanya ke bar. Di sanalah semua amarah, sakit hati, dan kecewa bermuara. Di dasar gelas, satu per satu, sambil berharap rasa perih di dadanya ikut tenggelam bersama alkohol yang ia telan perlahan-lahan. “Sialan! Ngapain aja aku selama ini sampai nggak bisa lihat sandiwara manusia-manusia binatang itu?” gumamnya usai menyeka sudut bibirnya. Jandita masih tidak habis pikir. Selama ini ia selalu percaya pada keduanya. Bahkan Tara yang jelas-jelas ia anggap saudara karena papa mereka juga berteman baik. Nyatanya, lebih busuk dari apa yang Jandita duga. Mimpi-mimpinya bersama Kendra tentang sebuah ikatan pernikahan hancur dalam sekejap. Setidaknya Jandita bersyukur telah bisa melihat kelakuan busuk pria yang selama ini ia sayangi, sebelum terlanjur menjadi suami. Setelah merasa puas menenggak banyak minuman keras malam itu, Jandita memutuskan untuk pulang sebelum kesadarannya benar-benar menghilang. Aroma alkohol masih menguar tajam dari tubuhnya yang bercampur dengan parfum mahal. Pandangannya berputar, sedangkan langkahnya limbung. Jandita membuang napas kasar. Rasa pahit minuman keras masih menggantung tajam di ujung lidahnya. Namun, ia tak mau banyak berpikir. Seluruh dunianya terasa hambar dan kosong saat ini. Bahkan, ia tak tahu ke mana arah kakinya bergerak. Hingga tanpa sadar ia sudah sampai di tengah jalan. Suara klakson terdengar memekakkan telinga. Sorot lampu mobil menyilaukan pandangannya. Refleks Jandita mengangkat tangan demi menutupi matanya yang terasa panas. Suara ban berdecit terdengar berikutnya. Namun, gadis itu sama sekali tak beranjak dari tempatnya berdiri. “Mau mati kamu?” Umpatan itu terdengar familiar. Pupil mata Jandita masih belum sempurna menangkap bayangan pria tinggi berkemeja putih yang baru saja menutup pintu mobil dengan keras. Namun, sosoknya tampak sangat ia kenal. Dewangga menatap gadis itu nyalang. Rahangnya mengeras karena menahan kesal. Ia sedang buru-buru ke kantor untuk memperbaiki sistem datanya yang eror karena tim IT belum bisa menghandlenya, tapi malah tertahan di sini. Di depan bar dengan wajah kuyu anak sahabatnya. Pandangan Dewangga tak lepas dari wajah merah Jandita yang masih dipengaruhi oleh alkohol. Gadis itu tersenyum kecil, sebelum akhirnya ambruk tepat ke arah tubuhnya. Dewangga refleks menahan Jandita. Lengannya mengeras saat tubuh semampai indah itu lunglai dalam pelukannya. Pasrah dan tak berdaya. Pria itu mengernyit ketika menyadari jika Jandita sedang mabuk berat. “Sialan! Kenapa malah nggak sadarkan diri,” bisik pria itu kesal.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

30 Days to Freedom: Abandoned Luna is Secret Shadow King

read
318.6K
bc

Too Late for Regret

read
360.5K
bc

Just One Kiss, before divorcing me

read
1.8M
bc

Alpha's Regret: the Luna is Secret Heiress!

read
1.3M
bc

The Warrior's Broken Mate

read
152.4K
bc

The Lost Pack

read
469.8K
bc

Revenge, served in a black dress

read
159.7K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook