Jandita kembali ke meja makan dengan langkah ringan. Wajahnya cerah dan sama sekali tidak ada gurat kecewa atau amarah seperti yang Dewangga tebak sebelumnya. Gadis itu menarik kursi dan duduk dengan santai. Ia meraih sendoknya dan segera menyuap dengan lahap. Gerakannya natural, bahkan bersenandung kecil tanpa suara. Dewangga yang sejak tadi duduk diam memperhatikannya dalam-dalam. Jandita tidak melapor apa yang terjadi di kamar Tara. Ia juga tampak santai dan baik-baik saja. Dewangga kembali menyuap, lalu bertanya, seolah-olah sambil lalu, “Tara nggak mau sarapan?” “Oh, mau,” jawab Jandita cepat, tanpa ragu. Ia mengangkat tangan, menunjuk ke arah tangga menuju lantai dua. “Itu dia.” Dewangga sontak menoleh. Tara sedang menuruni tangga. Wajahnya kaku, ekspresinya tertahan antara ke

