Bab 15. Peran Sebagai Istri

1368 Kata

Pagi itu Jandita turun ke dapur dengan langkah ringan, meski kepalanya masih penuh sisa-sisa kejadian semalam dan … tadi pagi. Ia mengibaskan perasaan itu cepat-cepat, lalu memilih fokus pada aroma bawang putih yang sudah ditumis Bik Ijah. “Pagi, Bik,” sapa Jandita sambil menyingsingkan lengan bajunya. “Eh, Mbak Jandita. Pagi, Mbak,” sahut Bik Ijah ramah. Jandita tersenyum. “Pagi, Bik. Aku bantu, ya.” Tanpa banyak bicara, mereka mulai bekerja berdampingan. Jandita memotong sayuran, sesekali mencicipi kuah, lali menyesuaikan rasa. Bahannya sederhana. Telur, tahu, dan sedikit daging cincang, tapi cukup untuk sarapan hangat. Kepala Jandita terasa lebih tenang saat tangannya sibuk. Beberapa kali matanya melirik ke arah jam dinding. Tidak ada tanda-tanda Dewangga akan keluar untuk sarapan.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN