Brak!
Tara terlonjak dari ranjangnya ketika mendengar suara pintu mobil ditutup keras dari arah garasi. Jantungnya berdetak cepat, karena sejak pulang dari kantor ia tidak bisa berhenti memikirkan satu hal, papanya dan Jandita.
Tanpa pikir panjang, Tara keluar kamar dan menuruni tangga dengan terburu-buru. Baru saja ia menginjak lantai bawah, Dewangga muncul melewati pintu utama dengan langkah berat.
“Pa!” panggil Tara tajam, langsung mencegat langkah pria itu. “Jelasin soal kejadian tadi. Aku yakin Papa nggak mungkin melakukan itu sama Jandita. Dia pasti … pasti Jandita yang menggoda Papa, kan?”
Rentetan tuduhan keluar begitu saja tanpa filter. Suaranya meninggi, matanya berair karena tersulut emosinya sendiri. Dia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa sahabat, ralat … mantan sahabatnya, tiba-tiba berada di posisi yang membuatnya kalah telak. Semalam Tara merasa menang setelah Kendra memilih dirinya. Tapi pagi ini? Jandita membalasnya dengan lebih telak. Mencabik habis harga dirinya.
Dewangga hanya membuang napas kasar. Ekspresi wajahnya datar dan dingin seperti biasanya.
“Kenapa kamu mikir begitu?” suaranya tenang, tapi tegas. “Jandita itu sahabat kamu. Harusnya kamu senang kalau aku dekat dengannya.”
“Nggak!” seru Tara cepat. “Kami udah nggak sahabatan, Pa. Dan aku nggak setuju Papa dekat sama dia, apalagi menikah.”
“Kenapa?”
“Pokoknya aku nggak setuju!” Tara histeris kecil, nada suaranya pecah.
Dewangga memandang putrinya lama, mencoba menebak apa yang sebenarnya terjadi antara dua gadis itu. Namun, apa pun penyebabnya, ia sudah mengambil keputusan. Dan Dewangga bukan tipe pria yang mudah menarik kata-katanya kembali.
“Papa akan menikahi Jandita sebulan lagi,” ucapnya tenang, tapi cukup untuk menghantam Tara seperti palu godam. “Papa harap saat itu kalian sudah kembali berteman baik.”
Tara menggeleng lemah. Tubuhnya seperti kehilangan tenaga. “Pa, aku–”
“Tara,” potong Dewangga datar. “Nggak semua hal harus sesuai keinginan kamu. Berhenti merengek tanpa alasan jelas. Papa sudah memutuskan.”
Dengan itu, Dewangga melangkah pergi menuju kamarnya. Meninggalkan Tara yang terdiam, tapi bibir bergetar. Sementara matanya memerah karena kesal.
Ia tahu sifat papanya. Sekali memutuskan sesuatu, hanya badai besar yang bisa mengubahnya. Dan Tara bukanlah badai. Ia bahkan bukan angin.
Gadis itu mengepalkan tangannya. Jika Dewangga tak bisa digoyahkan, maka yang harus ia lakukan … hanya satu.
“Aku harus maksa Jandita buat jauh dari Papa.”
Napasnya memburu. “Hanya itu caranya.”
***
Dewangga melepas kancing kemejanya satu per satu saat masuk kamar. Bahunya terasa berat. Bukan hanya karena kurang tidur semalam, tapi juga karena memikirkan keputusan yang baru saja dibuatnya.
Ia melempar pandang pada paper bag di pojok meja. Tas kertas berisi pakaian Jandita yang ia bawa pulang. Pakaian yang semalam basah oleh muntahan, alkohol, dan … kekacauan.
Entah apa yang ia lakukan sebenarnya.
Ia bisa saja membuangnya di kantor. Atau meminta cleaning service mengurusnya. Tapi tidak, ia justru membawa pakaian itu pulang.
“Sepertinya aku sudah mulai gila,” gumamnya lirih.
Tangannya mengusap wajah, lalu mengurut pangkal hidungnya. Dewangga, pria yang selama ini berpikir dengan logika paling dingin, kali ini terjebak oleh emosinya sendiri. Bahaya. Ini benar-benar sangat bahaya.
“Dia hanya anak kecil, Dewa,” bisiknya pada diri sendiri. “Hanya anak kecil.”
Namun, suara itu terdengar seperti pembenaran … bukan peringatan.
Ia mengembuskan napas panjang lalu masuk ke kamar mandi. Membiarkan air dingin membasuh sedikit kelelahan di kepalanya.
***
Beberapa jam kemudian….
Bel butik berbunyi. Para pegawai yang sedang menata display menoleh, lalu melirik satu sama lain. Mereka mengenali sosok yang datang. Wajah Tara terlalu sering terlihat datang ke sini untuk tidak dikenal.
“Selamat si—”
“Mana Jandita?” potong Tara tanpa senyum. Nada suaranya menusuk.
Salah satu pegawai terkejut dan menunjuk ke arah ruang fitting VIP di belakang. Tara berjalan cepat, tumit sepatunya mengetuk lantai marmer butik dengan keras. Ia bahkan tidak mengetuk ketika membuka pintu.
Brak!
Jandita yang sedang merapikan katalog lookbook menoleh santai. Senyum kecil dan datar terbit seperti orang yang sudah tahu akan terjadi sesuatu.
“Kamu datang juga,” ucap Jandita tenang. “Aku kira kamu masih sibuk ngerayain kemenanganmu sama Kendra.”
Tara memijat pelipis, menahan emosi agar tidak langsung meledak.
“Kamu nggak bisa nikah sama Papa! Ngerti nggak? Kamu itu … kamu itu sahabat aku, Jandita!” Suara Tara bergetar di akhir.
Jandita menutup katalog. Ia berdiri, lalu menatap Tara dari ujung kepala sampai kaki. Pandangannya menusuk, tapi tetap tenang.
“Kita udah bukan sahabat, Tara. Kamu sendiri yang bilang itu semalam.”
“Itu beda!” balas Tara cepat. “Yang ini … ini Papa, Jan! Papa!”
“Aku tahu.” Jandita menyilangkan tangan di d**a. “Dan kami sudah sepakat.”
Tara tercengang. “Sepakat? Kamu gila?! Kamu sadar, kan, Papa itu jauh lebih tua! Kamu cuma mau balas dendam sama aku, kan? Karena Kendra?”
Jandita tertawa lirih. “Tara … kalau cuma mau balas dendam, aku bisa bikin kamu lebih hancur dari kemaren. Tapi ini … lebih dari itu.”
“Kamu bohong! Papa pasti–”
“Papa kamu setuju, Tara.”
Jandita memotong dengan suara lembut, tapi mematikan. “Papa kamu yang ngomong langsung. Dan kamu tahu … Papa kamu nggak pernah tarik kata-katanya.”
Tara memucat. Mulutnya terbuka, tapi tak ada suara keluar.
Jandita mendekat selangkah, membuat Tara secara refleks mundur.
“Kamu nggak punya hak buat ngelarang,” ucap Jandita pelan. “Bahkan kami sudah menentukan tanggal pernikahan,” imbuh Jandita dusta.
Wajah Tara memerah, panas oleh rasa malu dan amarah. “Jandita … tolong. Aku nggak mau kamu jadi … jadi ibu tiri aku. Itu aneh! Itu—”
“Kenapa?” Jandita menaikkan satu alis. “Karena kamu takut?”
“Aku nggak takut!”
Jandita tersenyum miring. Senyum penuh kemenangan setelah Tara meremehkannya kemarin.
“Kenapa kamu takut punya ibu tiri secantik aku, hm? Takut Kendra bakal tergoda lagi? Iya?”
Tara menahan napas. Matanya memerah oleh kemarahan dan rasa kalah yang menampar berkali-kali.
“Aku benci kamu,” bisiknya, sebelum akhirnya berbalik dan keluar dari butik dengan langkah goyah.
Jandita hanya tersenyum tipis. Ia tidak merasa bersalah, tidak juga merasa kalah.
Karena setelah ini Tara benar-benar mati kutu. Namun, sepeninggal Tara, Jandita akhirnya tumbang ke kursinya. Napasnya putus-putus. Jantungnya bahkan berdetak dengan kencang.
Ia tak menyangka bisa mengatakan hal demikian pada Tara. Mengingat persahabatan mereka yang sudah terjalin sangat lama, permusuhan ini benar-benar berat. Entah apakah ia sanggup terus melawan atau kalah karena sesuatu hal.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Jandita mengangkat kepalanya, lalu mengambil benda benda elektronik dari tasnya. Napasnya tiba-tiba tercekat ketika nama itu terlihat berpendar di layar ponselnya. Dengan tangan gemetar, Jandita menerima panggilan itu.
“Halo, Om. Ada apa?”