bc

Korban Dosen Mapan

book_age18+
77
IKUTI
1K
BACA
HE
teacherxstudent
opposites attract
arranged marriage
powerful
drama
bxg
campus
office/work place
teacher
like
intro-logo
Uraian

Hidup Bianda Hana Syuratmadja mendadak rontok. Demi lepas dari bayang-bayang HanaSyu Cosmetics, ia menyamar jadi "Sri"—anak magang culun berkacamata tebal di Brama Group. Sialnya, mentor magangnya adalah Magnus Juan Bramantyo, dosen pembimbing skripsi berwajah tampan tapi berhati killer yang paling ia benci!

Kegilaan belum usai. Akibat perjodohan kolot sang kakek, Bianda dipaksa menikah rahasia dengan Magnus. Kini, Bianda harus membagi waktu 24 jamnya: jadi istri penurut di rumah, mahasiswi yang dibantai skripsinya di kampus, dan anak magang yang disuruh fotokopi di kantor. Sanggupkah Sri—maksudnya Bianda—bertahan sebelum penyamarannya terbongkar?

chap-preview
Pratinjau gratis
BAB 1
POV Bianda “Kamu sebut ini analisis pasar, Bianda?” Kalimat itu meluncur lambat, dingin, dan telak menghantam wajahku. Magnus Juan Bramantyo melempar draf jilid luks bersampul mika tebal yang kubuat setengah mati ke atas meja kayu mahoninya. Di mataku, pena merah yang bertengger di antara jemari panjangnya sudah bukan lagi alat tulis biasa. Benda itu adalah senjata pemusnah massal yang baru saja membantai masa depan akademisku tanpa ampun. IPK 3,9 yang kubanggakan selama tujuh semester ini mendadak tidak ada gunanya. Di hadapan dosen pembimbing merangkap penguji yang tidak punya hati ini, angka-angka itu menguap begitu saja. “Ini bukan analisis,” lanjut Magnus, suaranya tetap datar tapi sanggup membuat suhu AC di ruang dosen berkali-kali lipat lebih menusuk kulit. Dia bersedekap, bersandar pada kursi kerjanya yang ergonomis. “Ini cuma angan-angan anak orang kaya yang manja. Tipikal mahasiswa yang tahunya bisnis itu sesederhana punya modal besar, pasang iklan, lalu duduk manis di ruangan ber-AC tanpa pernah tahu sekotor dan sekeras apa realitas di lapangan.” Aku mengepalkan tangan erat-erat di bawah meja. Kuku-kukuku menekan telapak tangan sampai memutih, menahan gejolak amarah yang mendadak naik ke ubun-ubun. Halaman pertama drafku sudah merah total. Penuh dengan coretan silang berukuran raksasa, coretan meliuk-liuk tak beraturan, dan catatan kaki berhuruf tegak kapital yang menyerupai bekas cabikan monster kelaparan. Tiga bulan penuh aku begadang bagai kalong, mengurangi jatah scrolling t****k sampai jempolku kaku, dan mengabaikan puluhan undangan hangout demi menyusun strategi pemasaran HanaSyu Cosmetics. Dan pria arogan di depanku ini cuma butuh waktu lima menit untuk melabelinya sebagai sampah. “Saya sudah riset data primer dari laporan keuangan tiga tahun terakhir, Pak,” cicitku, mencoba menata pita suaraku agar tidak bergetar. Aku berusaha sekuat tenaga membela sisa-sisa harga diri yang mulai amblas ke dasar bumi. “Semua pergerakan saham dan grafik penjualan kompetitor juga sudah saya lampirkan di lampiran C.” Magnus memicingkan mata. Tatapannya dari balik bingkai kacamata bermerek itu menusuk langsung ke manik mataku, seolah sedang membedah isi kepalaku yang dia anggap kosong. “Teori, Bianda. Semuanya cuma teori usang yang kamu salin mentah-mentah dari buku teks luar negeri,” potongnya telak, sama sekali tidak memberi ruang bagiku untuk bernapas. “Kamu pikir pasar kosmetik di negara berkembang bisa disamakan dengan subjek di buku teks Amerika? Perusahaan kosmetik itu bukan cuma soal angka di atas kertas yang kelihatan cantik saat rapat direksi. Ini soal bagaimana produkmu merangkak, bertahan, dan bertarung di pasar tradisional. Dan draf yang kamu bawa ini? Kosong. Sama sekali gak punya nyawa.” “Tapi indikator makro ekonominya sudah sesuai dengan standar jurnal akreditasi, Pak,” bantahku lagi, agak nekat. Ego seorang Bianda Hana Syuratmadja berontak. Aku tidak terbiasa didepak sekasar ini. “Jurnal tidak menjual lipstik di pasar loak, Bianda,” sahut Magnus, nadanya meninggi satu oktav, tajam dan sarkas. “Jurnal juga tidak tahu bagaimana caranya meyakinkan ibu-ibu di pelosok daerah buat memilih bedakmu ketimbang bedak kiloan tak berizin. Kamu mau jadi akademisi yang cuma bisa berteori, atau mau lulus sebagai praktisi bisnis? Kalau cuma ini kemampuanmu, saya ragu kamu bisa memimpin bisnis warung kelontong, apalagi korporasi besar.” Kata-katanya menohok tepat di ulu hati. Air mata sudah mendesak di sudut kelopak mataku, terasa panas, perih, dan sialnya, sangat memalukan. Tapi demi gengsi tujuh turunan keluarga Syuratmadja, aku bersumpah menolak menangis di depan pria batu ini. Aku menarik napas dalam-dalam, menelan bulat-bulat semua makian kasar dan nama hewan yang sudah mengantre rapi di tenggorokanku. Dengan gerakan perlahan, aku mengulurkan tangan. Kupeluk tumpukan kertas penuh noda tinta merah itu erat-erat di dadaku. Kertas-kertas itu terasa berat, seberat ekspektasi papaku yang menggantung di pundak. ‘Lihat saja nanti,’ umpatku dalam hati, menatap kemeja flanelnya yang terlipat rapi sampai siku dengan dendam kesumat. ‘Lu belum tahu aja siapa bapak gue yang sebenarnya, Magnus. Gue bakal buktiin kalau gue gak selemah yang otak kaku lu itu kira. Lu bakal menyesal udah bikin gue kayak remahan rempeyek hari ini.’ Aku memaksakan sebuah senyuman formal. Jenis senyuman yang sangat kaku, yang membuat otot-otot pipiku terasa kram seketika. “Baik, Pak. Saya mengerti poin Anda. Saya akan perbaiki bagian analisis lapangannya.” “Bagus kalau kamu paham,” ucapnya pendek, kembali meraih beberapa berkas lain di mejanya seolah keberadaanku sudah tidak penting lagi. “Dan satu hal lagi. Jangan gunakan sudut pandang kosmetik premium. Turun ke bawah. Lihat bagaimana produk kelas menengah ke bawah bergerak.” “Apakah saya harus mengganti seluruh sampel respondennya juga?” tanyaku, menahan geraman yang nyaris lolos. Jika iya, itu berarti aku harus mengulang bab tiga dari nol. “Tenu saja,” jawabnya tanpa menoleh, fokus membolak-balik kertas di tangannya. “Desain risetmu salah kaprah sejak awal. Tiga puluh persen pelaku pasar yang kamu jadikan subjek itu tidak representatif.” Aku menarik napas panjang, menatap ubun-ubunnya dengan tatapan ingin melempar vas bunga di sudut meja. “Ada tambahan lain, Pak? Biar sekalian saya rombak semuanya malam ini.” “Gunakan metode kualitatif pendukung. Wawancara langsung. Saya tidak mau melihat persentase angka yang dihasilkan dari kuesioner daring yang bias. Kamu paham maksud saya?” “Paham, Pak Magnus yang terhormat,” jawabku, menekankan setiap kata dengan intonasi yang sengaja kubuat sedatar mungkin. Aku berbalik dengan cepat, bersiap angkat kaki dari ruangan terkutuk penuh hawa intimidasi ini secepat mungkin sebelum pertahanan gengsiku jebol dan air mataku tumpah di koridor. Namun, baru dua langkah kakiku bergerak di atas lantai granit ruang dosen, suara beratnya yang bariton kembali menginterupsi udara, menghentikan gerakanku seketika. “Revisi ini saya tunggu besok pagi jam delapan.” Magnus menatapku dari balik mejanya tanpa riak sedikit pun, seolah baru saja menjatuhkan vonis hukuman mati tanpa beban moral. “Tepat di meja saya, dalam bentuk cetak yang rapi. Kalau terlambat satu menit saja, silakan ambil mata kuliah skripsi ini di semester depan, Bianda.” Aku membeku. Kepalaku perlahan menoleh ke belakang, menatapnya dengan mata melebar. “Besok pagi jam delapan, Pak? Rombak total bab empat dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam?” Magnus menopang dagunya dengan kedua tangan, menatapku lurus. “Dunia bisnis tidak akan menunggumu siap, Bianda. Kompetitormu tidak akan memberikan waktu tambahan hanya karena kamu mengantuk atau lelah. Jam delapan. Tidak ada negosiasi.” Aku mengepalkan gigi kuat-kuat, berbalik sepenuhnya lalu berjalan cepat keluar ruangan tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi. Pintu ruang dosen kututup sedikit lebih keras dari biasanya. Begitu kakiku menginjak koridor kampus yang mulai sepi, aku menyandarkan punggung ke dinding semen, memeluk draf skripsiku yang berdarah-darah, dan mengembuskan napas panjang yang terasa membakar d**a. “Dosen gila,” makiku lirih pada koridor yang kosong. “Pria berhati es. Lihat aja, Magnus ... gue gak bakal biarkan lu menang.” Kamarmu malam itu berubah jadi saksi bisu betapa hancurnya mentalku. Jam dinding sudah berputar melewati angka dua subuh, tapi layar laptopku masih menyala terang, memantulkan bayangan mataku yang sudah mirip panda kehabisan bambu. Kopi hitam di cangkir ketiga sudah dingin, menyisakan rasa pahit yang pas dengan suasana hatiku. “Lu mau main kasar? Oke, kita main kasar,” gumamku pada barisan dokumen di layar. Jari-jariku menari brutal di atas keyboard. Aku menghapus satu bab penuh berisi teori-teori indah dari Phillip Kotler yang kemarin disebut Magnus sebagai 'sampah mengawang-awang'. Sebagai gantinya, aku membuka paksa situs Badan Pusat Statistik. Aku mengunduh puluhan data perkembangan industri kosmetik mikro di pelosok daerah, membedah daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah, dan menyusun strategi penetrasi pasar yang sangat agresif. Ketika azan subuh berkumandang, aku baru menekan tombol save. Kepalaku rasanya mau pecah, tapi melihat hasilnya, aku tersenyum puas. Aku langsung mandi air dingin, memoles cushion tebal untuk menutupi mata pandaku, lalu menyambar kunci Porsche Cayman merahku. Tujuan pertama, fotokopi dua puluh empat jam di dekat kampus. Tepat pukul tujuh lewat lima puluh menit, aku sudah berdiri di depan pintu ruang dosen. Napasku agak memburu, memeluk draf baru bersampul mika biru yang masih terasa hangat dari mesin cetak. Aku mengetuk pintu dengan ketukan tegas, lalu melangkah masuk. Di sudut ruangan, Magnus sudah duduk dengan kemeja putih yang disetrika sangat rapi. Pria itu sedang menyesap kopinya dengan santai saat aku melangkah mendekat. “Tujuh lewat lima puluh lima,” ucap Magnus tanpa melihat jam, nadanya sedingin es. “Kamu beruntung, Bianda. Lima menit lagi, saya sudah menandatangani surat penundaan skripsimu.” Aku meletakkan draf baru bersampul biru itu tepat di atas mejanya dengan sedikit entakan sengaja. “Ini revisi yang Anda minta, Pak Magnus yang terhormat. Semuanya sudah selesai sebelum jam delapan pagi.” Magnus menatap tumpukan kertas itu, lalu beralih menatapku dari balik kacamatanya. “Metode kualitatifnya sudah kamu masukkan?” “Sudah, Pak,” jawabku mantap, melipat tangan di d**a dan membalas tatapannya dengan berani. “Wawancara langsung dengan sepuluh pemilik toko kosmetik tradisional di pasar subuh sudah saya lampirkan di bab empat. Data BPS juga sudah sinkron.” “Lalu bagaimana dengan analisis kompetitor kelas bawah yang kemarin saya sebut bias?” Magnus membuka halaman tengah drafku, jemari panjangnya membalik lembaran kertas dengan pelan. “Saya merombak seluruh indikatornya,” sahutku cepat, tidak memberi ruang baginya untuk meragukanku lagi. “Saya membuang semua sampel dari sirkel pertemanan saya dan menggantinya dengan target demografis riil masyarakat berpenghasilan rendah. Anda bisa periksa sendiri grafiknya di halaman sembilan puluh.” Magnus terdiam beberapa saat, matanya bergerak lincah membaca baris demi baris analisis baruku. Aku menahan napas, menunggu coretan pulpen merahnya keluar lagi. Tapi kali ini, pulpen itu tetap tergeletak diam di atas meja. “Bagus,” ucap Magnus pendek, menutup draf itu dengan bunyi pelan. Dia mendongak, menatapku lurus. “Ternyata kamu bisa kerja keras kalau diancam tidak lulus, Bianda.” “Saya selalu bisa kerja keras, Pak,” sindirku halus, menaikkan dagu dengan angkuh. “Hanya saja kemarin pembimbing saya terlalu sibuk menilai latar belakang keluarga saya daripada kualitas tulisan saya.” Magnus menaikkan sebelah alisnya, ada riak ketertarikan yang sangat tipis di matanya sebelum wajahnya kembali datar. “Saya menilai apa yang saya lihat di atas kertas. Dan draf ini jauh lebih baik dari sampah yang kamu bawa kemarin sore.” “Terima kasih atas pujiannya yang sangat pelit itu, Pak,” jawabku sarkas, tidak bisa menahan lidahku lagi. “Kalau sudah tidak ada coretan merah lagi, saya permisi keluar.” “Tunggu, Bianda,” panggil Magnus tepat sebelum tanganku menyentuh gagang pintu. Aku berbalik, menatapnya jemu. “Ada revisi instan lagi yang harus saya kumpulkan jam delapan malam nanti, Pak?” Magnus bersandar pada kursinya, menatapku dengan tatapan misterius yang membuat bulu kudukku meremang. “Sampaikan salam saya pada papamu. Katakan pada beliau, saya akan datang ke makan malam keluarga besar kita nanti malam.” Aku mengernyitkan dahi, bingung setengah mati. “Makan malam keluarga? Maksud Anda apa, Pak?” “Kamu belum diberitahu?” Magnus tersenyum tipis—sebuah senyuman yang lebih mirip seringai serigala daripada senyuman ramah. “Tanyakan pada papamu nanti siang. Sekarang, silakan keluar dari ruangan saya.” Aku mendengus kesal, lalu melangkah keluar dan menutup pintu dengan sedikit keras. Di koridor kampus yang mulai ramai, aku berdiri dengan sejuta pertanyaan di kepala. ‘Makan malam keluarga? Sejak kapan dosen es batu ini punya hubungan dengan papaku?’ Aku meraba ponsel di saku blusku, bersiap menelepon Papa untuk meminta penjelasan atas keanehan ini. ‘Lihat saja nanti,’ pikirku sambil berjalan cepat menuju tempat parkir. ‘Kalau pria robot itu berencana mempersulit hidupku di luar kampus, dia belum tahu saja dengan siapa dia sedang bermain-main.’

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
834.9K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
386.3K
bc

Not just, the Beta

read
362.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook