Bagas melirik sekilas dan tersenyum di dalam hatinya. Ia senang mendengar erangan dan desahan Maya yang membuat telinganya semakin ingin mendekat pada bibir tipis itu. Pinggul maya yang masih bergerak menari -nari membuat Bagas harus memegang kedua paha Maya agar mengapit kepalanya. Sesekali Bagas mengangkat wajahnya dan meraup oksigen sebanyak mungkin. Bagas masih bergerilya di gua basah yang nikmat itu. Semakin lama gua itu semakin basah dan licin saja. "Gas ... Udah Gas ... Sekarang giliran kamu aku puasin dulu. Kalau begini terus, aku bisa lemes sebelum membuat kamu keok juga," racau Maya dengan tubuh setengah bergetar. Tangan Maya semakin meremas rambut Bagas. Bagas pun mulai menghentikan aktivitas liaranya di gua Maya. Wajahnya berantakan dengan beberapa cairan yang menempel pa