Apa?!" Kompak Malika dan Adi berteriak. Kedua kakak beradik itu saling memandang. Menganggap gila ucapan yang Putra lontarkan. Begitu pikiran keduanya. "Apakah kamu sedang mabuk, Putra? Apa yang terjadi sampai kamu bicara tidak normal seperti tadi?" Malika bereaksi. Menatap tak suka terhadap sahabatnya itu dengan pandangan jijik yang tiba-tiba hadir. Bagaimana bisa Putra mengatakan hal yang tidak masuk akal. Menganggap kata pernikahan adalah sebuah ritual biasa tanpa kesakralan di dalamnya. "Malika, aku baik-baik saja. Aku tidak mabuk. Dan apa yang aku katakan tadi adalah keseriusan permintaan hatiku atas apa yang aku rasakan padamu saat ini." "Putra, kamu jangan gila! Besok kamu akan menikah. Winda perempuan yang kamu suka sejak dulu, adalah calon istri kamu. Untuk apa kamu menga

