Ciuman antara keduanya berlangsung lama. Arka yang mendominasi tak bosan melumat dan menyecap bibir tipis istrinya. Seolah lupa akan sekitar membuat kedua mata mereka sama-sama terpejam. Begitu menikmati lumatan masing-masing, Malika atau Arka sama-sama tak ingin berhenti. Ketika bibir keduanya terlepas oleh salah satu dari mereka, salah satu yang lain akan kembali melahap. Begitu terus hingga sebuah cengkraman jemari Malika di bahu Arka, menandakan jika aksi itu harus berhenti. Napas keduanya tersengal saling bersahutan. Malika dengan bekas air mata di kedua pipi, memandang wajah lelaki di depannya, sosok yang sangat ia rindukan. "Kamu kenapa hanya diam saja ketika menemuiku di kamar?" tanya Malika masih menatap wajah suaminya. Pertanyaan Malika sontak membuat Arka terkejut. Ternyat

