“Kau lelah?” Tanya Ansel ketika melihat Savannah meregangkan lehernya ke kanan dan ke kiri. “Aku bingung. Kenapa kau selalu menanyakan hal-hal yang sudah pasti? Bayangkan saja, aku menerjemahkan percakapan mereka selama dua hari dari pagi sampai malam. Siapa yang tidak lelah?” Tanya Savannah balik. “Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa kau tidak bisa seperti wanita-wanita lainnya? Menjawab sesuai apa yang ditanyakan walaupun jawabannya sudah diketahui. Pantas saja pria-pria yang mendekatimu selama ini langsung mundur” Sindir Ansel seraya memberikan minuman pada Savannah. “Aku ini wanita yang realistis, tidak mempan dengan pertanyaan bodoh seperti itu apa lagi rayuan-rayuan buaya darat seperti mereka” Ucap Savannah kemudian meminum minumannya. “Kalau kau seperti itu terus, mungkin

