#1: Saat Ibu Pergi dan Wanita Itu Datang
Suara piring pecah di lantai bawah terdengar hingga ke kamar Adrian yang tertutup rapat. Ini sudah malam ketiga dalam minggu ini, kedua orangtuanya selalu ribut.
Adrian yang baru berusia lima belas tahun hanya bisa meringkuk di balik selimut, menekan telinganya kuat-kuat dengan bantal. Namun suara teriakan bentakan ayahnya dan tangisan ibunya—tetap menembus telinganya.
"Aku sudah tidak tahan lagi dengan sikapmu! Kamu selalu merasa paling benar sendiri!" Suara ayahnya menggelegar, diikuti suara geseran kursi yang kasar.
Lalu suara ibunya menyambar, lebih melengking dan penuh luka. "Kalau begitu, ceraikan aku! Aku sudah lelah hidup seperti ini di sini. Apalagi kau sudah selingkuh di belakangku!"
Adrian menahan napasnya sejenak. Ia berharap ayahnya akan mengejar ibunya, memeluknya, dan meminta maaf seperti di film-film.
Namun yang terdengar justru suara pintu depan yang dibanting dengan sangat keras hingga kaca jendela kamar Adrian ikut bergetar.
Setelah itu, rumah kembali sunyi.
Dua hari setelah pertengkaran itu, suasana rumah terasa sangat dingin.
Ibu dan ayahnya tidak saling bicara. Ibunya hanya diam, menyiapkan sarapan dengan mata sembap, sementara ayahnya sibuk dengan ponsel di meja makan.
Adrian berangkat sekolah dengan perasaan tidak enak yang mengganjal di ulu hatinya.
---
Hari itu, Adrian pulang sekolah lebih cepat karena ada rapat guru. Ia mengayuh sepedanya dengan semangat, berpikir mungkin ia bisa menghibur ibunya dengan nilai ujian matematikanya yang tadi didapatnya dengan sempurna.
Saat ia sampai di depan rumahnya, pagar rumahnya sudah tidak terkunci. Pintu depan juga terbuka sedikit.
"Ibu? Aku pulang!" teriak Adrian sambil melepas sepatunya asal-asalan.
Tidak ada jawaban. Rumah itu terasa sangat sunyi,.
Adrian berjalan ke arah dapur. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada aroma masakan, tidak ada sosok ibunya juga.
Ia lalu naik ke lantai dua, menuju kamar orang tuanya. Pintu kamar itu terbuka lebar. Lemari pakaian ibunya sudah terbuka, kosong melompong. Hanya tersisa beberapa gantungan baju plastik yang berserakan di lantai.
Adrian mulai panik. Ia berlari ke kamarnya sendiri, berharap ini hanya lelucon. Tapi di atas meja belajarnya—di antara tumpukan buku komik, ada selembar kertas putih yang dilipat rapi.
Adrian meraihnya dengan tangan gemetaran, membacanya.
"Adrian sayang, maafkan Ibu. Ibu harus pergi sekarang. Ibu tidak bisa lagi tinggal di rumah ini. Kamu harus kuat ya, Nak. Jaga dirimu baik-baik. Ibu sangat menyayangimu, tapi Ibu tidak bisa membawa kamu ikut sekarang. Maafkan Ibu...
Lutut Adrian terasa lemas. Ia terduduk di kursi belajarnya, meremas surat itu hingga lecek. Air mata mulai mengalir tanpa bisa ia tahan.
Ibunya pergi—benar-benar pergi meninggalkannya sendirian di rumah yang terasa seperti kuburan ini. Ia merasa dikhianati. Bagaimana bisa seorang ibu pergi tanpa membawanya? Apa dia hanya beban bagi ibunya?
Di tengah rasa sesaknya, suara mobil ayahnya terdengar memasuki halaman. Adrian segera menghapus air matanya. Ia keluar kamar, menuruni tangga dengan cepat. Ia ingin menunjukkan surat itu pada ayahnya. Ia ingin bertanya apakah ayahnya tahu ke mana ibunya pergi.
Namun, langkah Adrian terhenti di anak tangga terakhir. Pintu depan terbuka. Ayahnya masuk dengan wajah yang sama sekali tidak terlihat sedih atau panik.
Sebaliknya, ayahnya tersenyum kecil. Dan di samping ayahnya, berdiri seorang wanita yang belum pernah Adrian lihat sebelumnya.
Wanita itu mengenakan gaun berwarna pastel yang sopan, dengan hijab yang membingkai wajahnya yang cantik dan terlihat jauh lebih muda dari ibunya. Tubuh yang terlihat begitu berisi dan senyum manis yang menampakkan lesung pipinya.
Wanita itu tampak canggung, tapi ia memberikan senyum kecil saat melihat Adrian berdiri diam di tangga.
"Adrian. Kamu sudah pulang?" tanya ayahnya dengan suara yang terdengar ceria di telinga Adrian.
Adrian tidak menjawab. Matanya tertuju pada tangan ayahnya yang baru saja melepaskan pegangan dari siku wanita itu. Ia merasa jijik. Baru beberapa jam yang lalu ia menemukan surat kepergian ibunya, dan sekarang ayahnya sudah pulang membawa wanita lain?
"Kenalin, ini Tante Arini," lanjut ayahnya, melangkah mendekat sambil merangkul bahu Adrian. "Mulai sekarang, dia akan tinggal di rumah kita. Kamu harus nurut ya sama dia. Dia yang akan mengurus keperluan rumah dan keperluan kamu."
Wanita bernama Arini itu melangkah maju. "Halo, Adrian," suaranya lembut, terdengar tulus.
Ayahnya berdeham, lalu menatap Adrian dengan tatapan serius. "Dan satu lagi, Adrian. Panggil dia Ibu mulai sekarang, ya. Dia adalah anggota keluarga baru kita."
Kalimat itu seperti petir yang menyambar Adrian tepat di ulu hati.
Ibu? Baru dua jam yang lalu ibunya pergi, dan ayahnya sudah menyuruhnya memanggil wanita asing ini dengan sebutan yang sama? Rasanya seolah-olah posisi ibunya hanyalah sebuah jabatan yang bisa diganti dalam hitungan menit.
Arini tersenyum makin lebar, meski nampak sedikit ragu. Ia mengulurkan tangannya ke arah Adrian, bermaksud untuk bersalaman atau sekadar menyapa secara formal sebagai tanda perkenalan.
Adrian hanya diam. Ia menatap tangan Arini yang terulur, lalu beralih menatap wajah cantik wanita itu dengan tatapan kosong yang penuh kebencian. Ia tidak membalas uluran tangan itu.
"Dia bukan ibuku. Dia wanita yang mencuri ayah dari ibuku. Dia yang membuat ibu pergi. Dia yang merusak keluarga ini." Pikir Adrian dalam hati.
Kebencian itu tumbuh seketika, mengakar kuat di dalam dadanya, menutupi rasa sedihnya karena ditinggal pergi oleh ibu kandungnya sendiri.
"Adrian, salaman sama Ibumu!" tegur ayahnya dengan nada yang mulai meninggi.
Adrian tetap tidak bergeming. Ia terus menatap Arini dengan mata yang mulai memerah karena amarah yang tertahan.
Arini yang merasa suasana makin canggung perlahan menarik kembali tangannya, senyumnya sedikit memudar, namun tatapannya tetap lembut—yang justru membuat Adrian semakin muak.
Adrian kembali menaiki tangga dengan langkah berat, mengabaikan panggilan ayahnya yang berteriak marah di bawah sana.
Begitu sampai di kamar, ia membanting pintu dan menguncinya rapat-rapat.
Hari itu, di usianya yang ke-15, Adrian secara resmi mendeklarasikan perang di dalam rumahnya sendiri. Ia bersumpah tidak akan pernah menerima kehadiran Arini sampai kapan pun.
Baginya, Arini hanyalah orang asing yang mengambil keuntungan di atas kehancuran keluarganya.