bc

Dokter Spesialis Patah Hati

book_age16+
88
IKUTI
1K
BACA
HE
opposites attract
second chance
doctor
drama
sweet
bxg
bold
city
office/work place
like
intro-logo
Uraian

“Jangan sentuh aku! Pergi! Aku lebih rela mati daripada dikasihani olehmu!”

Bagi Zaviar Elora Maheswari, kehilangan penglihatan akibat kecelakaan tragis yang juga menghancurkan mimpinya sebagai balerina internasional ternyata belum menjadi luka paling menyakitkan dalam hidupnya.

Yang paling menyakitkan justru sebuah suara. Suara bariton yang begitu ia kenal. Suara pria yang sepuluh tahun lalu pergi tanpa penjelasan, meninggalkannya dengan hati yang hancur dan pertanyaan yang tak pernah mendapatkan jawaban.

dr. Arnav Ghazi Danendra, Sp.M.

Pria yang selama ini ingin Elora lupakan, kini justru berdiri di samping ranjang rumah sakitnya sebagai dokter spesialis mata yang bertanggung jawab atas seluruh proses kesembuhannya.

Elora membenci semua ini. Ia membenci suara Arnav yang kembali mengusik hidupnya. Ia membenci sentuhan tangan yang dulu pernah begitu ia rindukan. Lebih dari itu, ia membenci takdir yang mempertemukan mereka kembali saat dunianya sudah berubah menjadi gelap.

Sayangnya, Arnav tidak berniat melarikan diri untuk kedua kalinya. Pria itu memilih bertahan. Tetap berada di samping Elora, meski setiap hari harus menerima kemarahan, kebencian, dan luka yang selama ini dipendam perempuan itu.

Elora tidak pernah tahu bahwa sepuluh tahun lalu, Arnav pergi sambil membawa sebuah rahasia yang tidak pernah sanggup ia ungkapkan.

Sementara Arnav sendiri tidak tahu sampai kapan ia mampu menyembunyikan identitas dan masa lalu yang sesungguhnya, sebelum Elora akhirnya menyadari siapa pria yang selama ini menggenggam jemarinya dalam gelap.

Ketika cahaya telah hilang dan hati mereka sama-sama dipenuhi luka, mampukah Arnav memperbaiki kehancuran yang pernah ia ciptakan sendiri?

Ataukah pertemuan kedua mereka justru akan melahirkan patah hati yang jauh lebih menyakitkan daripada sepuluh tahun yang lalu?

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
“Aku sengaja pilih lagu ini buat ujian balet minggu depan, Nav. Bagus, kan? Kalau lulus, aku mau langsung daftar beasiswa ke Singapura.” Elora berputar kecil di bawah gerimis sore yang mulai turun di halaman belakang sekolah. Rok seragamnya ikut berayun, sementara senyum di wajah gadis delapan belas tahun itu terlihat begitu cerah. Saat itu, dunianya terasa sempurna. Mimpi-mimpinya sedang tumbuh, dan ada satu orang yang selalu ia bayangkan akan berjalan bersamanya sampai akhir. Arnav. Pria yang sudah menemaninya hampir separuh hidupnya. Elora tersenyum lebar lalu mengulurkan tangan seperti biasanya, berniat menggenggam jemari sang kekasih. Sayangnya, Arnav justru mundur satu langkah. “Nav?” “Kita putus, El.” Elora tertawa kecil. “Apaan sih? Nggak lucu.” Ia menggeleng sambil tersenyum. “Ujian baletku tinggal seminggu lagi. Jangan bikin aku stres.” “Aku serius.” Suara Arnav datar. “Kita selesai sampai di sini.” Senyum Elora perlahan hilang. Ia berkedip beberapa kali, seolah tidak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kenapa?” Suara gadis itu mengecil. “Kemarin kita masih baik-baik saja.” Arnav diam. “Aku ada salah?” Masih diam. “Kalau aku salah, bilang sama aku. Jangan tiba-tiba kayak gini.” “Kamu nggak salah.” Jawaban itu justru membuat Elora semakin takut. “Lalu kenapa?” Arnav mengalihkan pandangannya. “Aku cuma sadar kita nggak cocok.” “Apaan?” “Aku capek.” “Capek?” “Aku nggak punya waktu buat hubungan kayak gini lagi.” Elora membeku. “Hubungan kayak gini?” “Hubungan kekanak-kanakan.” Air mata langsung memenuhi kedua mata Elora. “Kekanak-kanakan?” Hujan mulai turun semakin deras. “Sepuluh tahun kita bareng, Arnav.” Suara Elora bergetar. “Sepuluh tahun.” Ia memukul d**a pria itu dengan kedua tangannya. Tidak keras. Tidak marah. Lebih seperti seseorang yang sedang berusaha membangunkan mimpi buruk. “Kamu bilang cinta sama aku.” Bruk. Satu pukulan lagi. “Kamu bilang kita bakal kuliah bareng.” Bruk. “Kamu bilang mau nikahin aku.” Bruk. “Kamu bilang ...” Air matanya jatuh semakin deras. “... kamu bilang bakal jadi mataku kalau suatu hari aku nggak bisa lihat.” Elora terisak. “Kamu bohong?” Arnav berdiri diam. Biasanya, setiap Elora menangis, pria itu akan langsung menariknya ke dalam pelukan. Biasanya, Arnav akan panik. Biasanya, Arnav akan meminta maaf lebih dulu. Hari itu, tidak ada pelukan. Tidak ada belaian. Tidak ada kata sayang. Pria itu hanya berdiri mematung, sementara kedua tangannya mengepal kuat di balik tubuhnya. Karena jika ia memeluk Elora saat itu juga, ia tahu dirinya tidak akan sanggup pergi. “Anggap saja semua yang pernah aku bilang itu bohong.” Suara Arnav terdengar dingin. “Mulai besok, jangan cari aku lagi.” Dunia Elora runtuh dalam satu kalimat. “Apa?” “Kita selesai.” “Arnav ...” “Sudah selesai, El.” “Arnav, lihat aku!” Pria itu berbalik. Langkahnya pelan, lalu semakin cepat, dan semakin jauh. Meninggalkan Elora sendirian di bawah hujan. “Arnav!” Elora berlari mengejarnya. “Arnav!” Kakinya terpeleset. Tubuhnya jatuh terduduk di atas aspal yang basah. Air mata bercampur air hujan membasahi wajahnya. “Arnav!” Tidak ada jawaban. “Arnav, jangan pergi!” Pria itu terus berjalan. Tidak menoleh, tidak berhenti, tidak kembali.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
747.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.7M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
980.6K
bc

A Warrior's Second Chance

read
360.7K
bc

Not just, the Beta

read
348.6K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook