
“Jangan sentuh aku! Pergi! Aku lebih rela mati daripada dikasihani olehmu!”
Bagi Zaviar Elora Maheswari, kehilangan penglihatan akibat kecelakaan tragis yang juga menghancurkan mimpinya sebagai balerina internasional ternyata belum menjadi luka paling menyakitkan dalam hidupnya.
Yang paling menyakitkan justru sebuah suara. Suara bariton yang begitu ia kenal. Suara pria yang sepuluh tahun lalu pergi tanpa penjelasan, meninggalkannya dengan hati yang hancur dan pertanyaan yang tak pernah mendapatkan jawaban.
dr. Arnav Ghazi Danendra, Sp.M.
Pria yang selama ini ingin Elora lupakan, kini justru berdiri di samping ranjang rumah sakitnya sebagai dokter spesialis mata yang bertanggung jawab atas seluruh proses kesembuhannya.
Elora membenci semua ini. Ia membenci suara Arnav yang kembali mengusik hidupnya. Ia membenci sentuhan tangan yang dulu pernah begitu ia rindukan. Lebih dari itu, ia membenci takdir yang mempertemukan mereka kembali saat dunianya sudah berubah menjadi gelap.
Sayangnya, Arnav tidak berniat melarikan diri untuk kedua kalinya. Pria itu memilih bertahan. Tetap berada di samping Elora, meski setiap hari harus menerima kemarahan, kebencian, dan luka yang selama ini dipendam perempuan itu.
Elora tidak pernah tahu bahwa sepuluh tahun lalu, Arnav pergi sambil membawa sebuah rahasia yang tidak pernah sanggup ia ungkapkan.
Sementara Arnav sendiri tidak tahu sampai kapan ia mampu menyembunyikan identitas dan masa lalu yang sesungguhnya, sebelum Elora akhirnya menyadari siapa pria yang selama ini menggenggam jemarinya dalam gelap.
Ketika cahaya telah hilang dan hati mereka sama-sama dipenuhi luka, mampukah Arnav memperbaiki kehancuran yang pernah ia ciptakan sendiri?
Ataukah pertemuan kedua mereka justru akan melahirkan patah hati yang jauh lebih menyakitkan daripada sepuluh tahun yang lalu?

