“Mama ...?”
Suara itu keluar pelan dari bibir Elora. Serak, nyaris seperti bisikan. Kelopak matanya terasa sangat berat saat ia mencoba membukanya. Kepalanya berdenyut hebat, menyisakan rasa nyeri yang menusuk dari pelipis hingga ke belakang kepala, membuatnya ingin kembali tenggelam dalam tidur.
Bau antiseptik yang tajam langsung menusuk hidungnya. Dingin dan asing. Elora mengernyit, lalu mencoba menggerakkan jari-jarinya. Lengan kanannya terasa sangat berat, sementara punggung tangannya terasa nyeri seperti ditusuk sesuatu. Jarum infus.
Kesadarannya mulai pulih sedikit demi sedikit.
“Mama ...?” panggilnya lagi. Tetap tidak ada jawaban.
Elora membuka matanya lebih lebar. Namun, pemandangan di sekelilingnya tetap gelap gulita. Ia berkedip beberapa kali untuk memastikan penglihatannya. Satu kali. Dua kali. Tiga kali. Hasilnya tetap sama. Gelap.
Mungkin lampunya mati, pikir Elora mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas pelan lalu menajamkan pendengarannya untuk menangkap situasi di sekitar. Terdengar bunyi teratur dari mesin monitor jantung.
Bip. Bip. Bip.
Ada langkah kaki seseorang, suara roda troli yang melintas, dan percakapan pelan dari kejauhan. Jadi, listrik tidak sedang padam. Mengetahui hal itu, d**a Elora mulai didera rasa tidak nyaman.
“Ada yang sudah sadar,” seru sebuah suara perempuan asing di dekatnya.
Elora langsung menoleh ke arah sumber suara meskipun lehernya terasa kaku.
“Saya panggil dokter dulu, Mbak,” ujar perawat itu lagi, diiringi suara langkah kaki yang bergerak menjauh.
Elora memejamkan mata sesaat. Tiba-tiba, potongan memori tentang kecelakaan itu datang menghantam kepalanya. Mobil, hujan deras, lampu kendaraan dari arah berlawanan, serta suara decit rem yang memekakkan telinga. Ia masih bisa mengingat jeritan dan benturan keras yang menghancurkan segalanya.
Jantungnya langsung berdegup jauh lebih cepat. Di mana Papa dan Mamanya?
“Papa ...” Suara Elora mulai bergetar ketakutan. “Papa?”
Tidak ada jawaban. Tangannya bergerak meraba-raba seprai di samping tubuhnya. Kosong. Tidak ada siapa-siapa di sana.
“Mama?” lirihnya lagi. Ruangan itu tetap membisu.
Rasa panik kini mulai menjalar perlahan, membuat ujung jemarinya gemetar dingin. Ingatan terakhir sebelum kecelakaan maut itu kembali muncul di kepalanya. Mereka baru saja pulang dari acara keluarga. Mama duduk di kursi depan, sementara Papa menyetir sendiri malam itu. Elora bahkan masih sempat mengeluh manja karena latihan balet yang membuat kedua kakinya pegal.
Papa tertawa. Mama menyuruhnya untuk libur latihan sehari. Ia masih mengingat dengan sangat jelas bagaimana suara tawa kedua orang tuanya. Sangat jelas. Lalu semuanya berubah dalam hitungan satu detik. Benturan, jeritan, lalu gelap.
Air mata mulai mengalir membasahi sudut matanya. “Papa ...”
Pintu ruangan terbuka, disusul suara beberapa langkah kaki yang mendekat ke arah ranjangnya.
“Selamat pagi, Mbak Elora,” sapa perawat yang tadi.
“Papa saya di mana?” tanya Elora langsung.
Perawat itu terdiam selama beberapa detik, menciptakan keheningan yang mencekam.
“Papa saya di mana?” ulang Elora dengan nada menuntut.
“Mbak Elora tenang dulu, ya. Kondisinya masih harus dipantau.”
“Aku tidak tanya kondisiku! Aku tanya Papa sama Mama sekarang di mana?!” Nada suaranya meninggi, dipenuhi emosi yang meluap.
Perawat itu menggigit bibir bawahnya, ragu untuk menyampaikan kenyataan yang sebenarnya. Belum sempat perawat itu menjawab, Elora kembali mengedarkan pandangan. Ia mencoba mencari titik terang, namun tetap tidak ada apa-apa yang tertangkap oleh matanya. Tidak ada cahaya, tidak ada warna, ataupun bayangan. Hanya ada hamparan warna hitam yang tidak berubah.
Elora mengernyit semakin dalam. Firasat buruk mulai mencengkeram dadanya.
“Aku ada di mana?”
“Di rumah sakit, Mbak.”
“Kenapa gelap sekali?”
Perawat itu tidak langsung menjawab. Elora merasa dadanya semakin sesak.
“Kenapa gelap?!” cecar Elora lagi.
“Mbak baru saja sadar dari koma. Mungkin ini masih efek dari obat.”
Efek obat. Elora mencoba memercayai jawaban itu untuk menenangkan dirinya sendiri. Harusnya memang begitu. Harusnya. Ia kembali membuka kedua matanya selebar mungkin. Tetap hitam. Tidak berubah sedikit pun. Jantungnya kini berdebar semakin cepat.
“Gordennya ditutup?”
“Tidak, Mbak.”
“Lampunya mati?”
“Tidak, Mbak. Lampunya menyala.”
Seluruh tubuh Elora mendadak membeku. “Tidak?”
“Tidak, Mbak.”
Kedua tangan Elora mulai gemetar hebat, sementara napasnya berubah menjadi pendek-pendek. “Kamu pasti bohong.”
Perawat itu menggelengkan kepala. “Saya tidak bohong, Mbak ...”
“Kamu bohong! Kamu bohong!” Suara Elora pecah menjadi tangisan histeris.
Ia mengangkat kedua telapak tangan ke depan wajahnya. Ia bisa merasakan jemarinya bergerak, bisa merasakan kulit telapak tangannya sendiri. Namun, ia sama sekali tidak bisa melihat apa pun. Tidak sedikit pun.
“Apa yang terjadi? Apa yang terjadi sama aku?!” Teriakannya kini dipenuhi rasa putus asa. “Apa yang terjadi?!”
Monitor jantung di samping tempat tidur langsung berbunyi semakin cepat. Perawat segera mendekat untuk menahannya.
“Mbak Elora, tolong tenang!”
“Lepaskan aku!” Elora berusaha memaksa tubuhnya untuk duduk.
Seketika itu juga, rasa nyeri yang luar biasa langsung menghantam kepalanya. “Aduh!” Tubuhnya kembali jatuh terhempas ke kasur. Air mata mengalir semakin deras membasahi pipinya.
“Aku tidak bisa melihat ...” Kalimat itu keluar pelan, nyaris seperti bisikan putus asa. Lalu ia mengulangnya lagi dengan lebih keras. “Aku tidak bisa melihat!”
Perawat di sampingnya hanya bisa menatap dengan pandangan iba.
“Aku tidak bisa melihat!” Teriakan Elora kini benar-benar pecah memenuhi ruangan. Tubuhnya gemetar hebat seiring meledaknya seluruh ketakutan yang sejak tadi ia tahan.
Ia seorang balerina. Seluruh hidup dan impiannya bergantung penuh pada penglihatannya. Sejak usia lima tahun, ia menghabiskan sebagian besar waktunya di studio latihan. Belajar membaca ruang panggung, menjaga keseimbangan, dan menghafal setiap gerakan koreografi yang rumit. Ia mengenali dunia dan arti hidup melalui matanya. Jika ia tidak bisa melihat lagi, apa lagi yang tersisa dari dirinya?
Panggung megah, pendar lampu sorot, gaun balet, hingga cermin besar di studio latihan muncul silih berganti di ingatannya. Semua kenangan indah itu kini justru terasa mencekik.
“Aku harus latihan bulan depan ...” tangis Elora kian menjadi-jadi, bahu kecilnya terguncang hebat. “Aku ada pertunjukan bulan depan!”
Tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang mampu menjawabnya.
“Bagaimana aku bisa latihan kalau aku tidak bisa melihat apa-apa?!” Elora membungkuk pasrah di atas kasur. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia merasa benar-benar takut. Bukan takut gagal atau kehilangan piala, melainkan takut kehilangan dirinya sendiri.
Pintu ruangan terbuka. Beberapa orang masuk bersamaan dengan langkah kaki yang cepat dan tegas.
“Kenapa?” Suara seorang pria terdengar. Rendah, tenang, dan berwibawa.
Perawat langsung memberikan laporan singkat. “Pasien sadar dan langsung mengalami serangan panik, Dok.”
Elora mendadak menoleh ke arah suara pria itu tanpa alasan yang jelas. Ada sesuatu yang terasa familiar dari karakter suara rendah tersebut. Sebuah memori samar yang terasa sangat jauh, seperti lagu lama yang pernah sangat akrab di telinganya bertahun-tahun lalu.
Pria itu melangkah mendekat hingga berada sangat dekat di samping ranjangnya. “Mbak Elora,” panggilnya lagi. Suaranya terdengar datar namun menenangkan.
Anehnya, di tengah kepungan rasa panik, suara pria itu justru membuat jantung Elora berhenti sesaat. Ia merasa sangat yakin pernah mendengar suara ini. Pernah. Tetapi di mana? Kapan? Kepalanya terlalu sakit untuk berpikir jernih.
“Aku tidak bisa melihat,” adu Elora dengan tangis yang kembali pecah. “Aku tidak bisa melihat apa-apa, Dok.”
Ruangan mendadak hening. Pria itu tidak langsung menjawab. Elora bisa merasakan kehadiran fisik pria itu yang berdiri tepat di samping ranjangnya. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa mendengar helaan napas berat pria tersebut.
“Aku tidak bisa melihat ...” bisiknya lagi, kali ini dengan nada suara yang kian melemah dan rapuh. Tidak ada lagi amarah atau teriakan, yang tersisa hanya ketakutan dari seorang perempuan yang dunianya baru saja runtuh.
Pria itu mengembuskan napas pelan, lalu berkata, “Kami akan memeriksa kondisi matamu lebih dulu.”
Kalimat sederhana itu justru membuat air mata Elora kembali jatuh. Untuk pertama kalinya sejak sadar, tidak ada satu orang pun di ruangan ini yang menghibur dan berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidak ada harapan palsu, membuat Elora sadar bahwa kondisinya sedang sangat buruk.
Elora mencengkeram erat seprai di bawah tangannya, meratapi dadanya yang terasa sangat sesak. Sementara itu, di samping ranjang, Arnav berdiri membeku. Tatapannya tidak pernah lepas dari wajah perempuan di hadapannya.
Wajah yang dulu memenuhi masa remajanya. Wajah yang selama sepuluh tahun ini berusaha keras ia lupakan. Wajah yang baru kemarin ia temukan kembali dalam keadaan bersimbah darah. Elora belum mengenali kehadirannya karena kebutaan itu, namun Arnav mengenal setiap bagian dari wajah tersebut. Setiap lekuk senyum, binar tatapan, dan semua kenangan lama mereka masih tersimpan rapi.
Tidak ada yang tahu betapa hancurnya perasaan Arnav saat itu. Bahkan dirinya sendiri tidak mampu menjabarkannya.
Kemudian, Dokter Hendra masuk ke ruangan membawa map berisi hasil pemeriksaan awal. Wajah dokter senior itu terlihat jauh lebih serius dari biasanya, membuat atmosfer ruangan kian menegangkan. Arnav langsung menoleh.
“Bagaimana hasilnya, Dok?” tanya Arnav dengan suara yang ditahan agar tetap terdengar profesional.
Dokter Hendra tidak segera menjawab. Ia membuka lembar pemeriksaan di tangannya, lalu memandang Elora yang masih menangis sesenggukan di atas ranjang. Ekspresi wajah Dokter Hendra seketika membuat detak jantung Arnav terasa sangat berat.
Arnav tahu arti dari tatapan mata konsulennya itu. Sebuah tatapan yang selalu muncul sebelum seorang dokter menyampaikan kabar paling buruk kepada keluarga pasien.
“Kita perlu bicara soal kondisi saraf optiknya,” ujar Dokter Hendra pelan namun tegas.
Kalimat itu seketika membuat ruangan terasa jauh lebih dingin, sunyi, dan menyesakkan. Arnav mengepalkan kedua tangannya di dalam saku, menyadari bahwa badai yang sebenarnya baru saja dimulai.