bc

Meniduri Milyuner Bodoh

book_age18+
43
IKUTI
1K
BACA
one-night stand
family
HE
love after marriage
age gap
friends to lovers
single mother
heir/heiress
drama
sweet
city
like
intro-logo
Uraian

Demi kebebasan dari hidup yang dikendalikan tantenya, Ellya setuju menjebak seorang milyuner "bodoh" dalam skenario one night stand. Targetnya: Reza Suryadinungrat—pewaris keluarga konglomerat yang tampak kikuk, polos, dan tidak berbahaya. Tapi pernikahan pura-pura itu berubah menjadi teka-teki saat Ellya mulai jatuh cinta pada Reza… yang ternyata menyimpan identitas mencengangkan. Saat kebenaran terbongkar, cinta mereka diuji oleh kebohongan, status, dan luka masing-masing. Apakah cinta bisa bertahan jika fondasinya adalah kepalsuan? Dan sang milyuner bodoh… benarkah ia sebodoh yang dikira?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 – Perempuan dalam Cermin
Cengkraman Tante Maharani di tengkuk Ellya terasa seperti tangan besi yang telah mendidiknya sejak kecil—keras, dingin, tanpa belas kasihan. Ia mendorong wajah Ellya mendekat ke cermin. Bukan agar Ellya berefleksi, tetapi agar ia mengingat siapa yang mengendalikan hidupnya. “Lihat baik-baik,” bisik tante, suaranya rendah namun mematikan. “Lihat perempuan yang selama ini hidup karena belas kasihanku.” Ellya menatap pantulan dirinya tanpa gentar. Mata kecokelatannya tidak gemetar, tidak meminta ampun, tidak menunjukkan kelemahan. Justru tenang. Terlalu tenang untuk perempuan yang hidupnya diperas habis oleh perempuan di belakangnya. “Apa yang tante inginkan?” tanyanya datar. Tante Maharani melepaskan cengkeramannya dengan kasar dan merapikan rambutnya seolah tidak terjadi apa-apa. “Pertanyaan yang tepat, akhirnya.” Ia mengambil gaun merah tipis dari ranjang, mengangkatnya, lalu meletakkannya di tangan Ellya. Gaun itu mahal, vulgar, dan terlalu mencolok. “Pakai ini.” “Kenapa?” Ellya bertanya tanpa emosi, tapi matanya mengeras. “Kita akan ke pesta bisnis. Akan ada banyak orang penting.” Tante menatap Ellya dari ujung kaki hingga ujung rambut. “Dan salah satunya adalah masa depan kita.” Ellya memutar bola matanya sedikit. “Apa lagi rencana tante?” Tante Maharani tersenyum—senyum kecil yang tidak pernah membawa kebaikan. “Kau akan bertemu Reza Suryadinungrat.” Ellya tidak bereaksi. Ia sudah menduga sesuatu seperti ini. “Siapa dia bagi tante?” “Bukan siapa-siapa,” jawab tante cepat. “Aku bahkan tidak mengenalnya.” Ellya menoleh. “Lalu kenapa—” “Tapi keluarganya berpengaruh,” potong tante. “Mereka kaya. Punya reputasi. Dan… pria itu terkenal polos.” Tante mencondongkan badan, suaranya merendah, “Lamban. Tidak pandai membaca situasi. Semua orang bilang begitu.” Ellya diam. “Bagian terbaiknya?” Tante tersenyum lebih lebar. “Mereka sangat menjaga nama baik keluarga.” Klik. Jebakan itu terdengar jelas di kepala Ellya. “Lalu apa?” tanya Ellya, suaranya sedingin kaca cermin. “Tante ingin aku menjebaknya?” “Tentu saja.” Tante Maharani mengangkat bahu seolah itu hal wajar. “Aku ingin kau tertangkap bersama dia. Dalam situasi yang membuat keluarganya tidak punya pilihan selain menikahkan kalian.” Ellya menarik napas dalam, tapi wajahnya tetap dingin. “Aku tidak mau menikahi orang asing.” “Kau ingin kebebasan, bukan?” Tante menggerakkan jari, memeluk dagu Ellya paksa. “Dengan menikah, kau keluar dari tanggunganku. Kau bisa pergi. Kau bisa hidup seperti yang kau mau.” “Kau ingin aku memanfaatkan dia.” “Lebih baik seorang laki-laki bodoh daripada hidup mati bersama tante tua miskin sepertiku, bukan?” Ellya tidak bereaksi—bukan karena ia setuju, tetapi karena ia sudah terbiasa melihat kegelapan di balik suara itu. “Kau pikir aku tega melakukannya?” katanya dingin. Tante Maharani mendesis. “Tega atau tidak, hidupmu bergantung pada ini.” Ia mendorong gaun merah itu ke d**a Ellya. “Pakai.” Ellya menatap gaun itu lama—bukan dengan keraguan, tetapi dengan penerimaan dingin terhadap dunia yang telah lama memaksanya memilih jalan kotor untuk bisa bernapas. Pada akhirnya, ia mengambil gaun itu. Untuk kebebasannya. Bukan untuk tante. Bar malam itu dipenuhi lampu neon biru yang memotong ruang seperti garis luka. Musik bergemuruh, tawa orang berjas mahal memenuhi udara, dan aroma alkohol seperti kabut yang meninabobokan akal sehat. Ellya berjalan masuk dengan kepala tegak, gaun merah membentuk tubuhnya seperti ancaman manis. Ia tidak gugup, tidak goyah, tidak mencari-cari cara melarikan diri. Ia adalah perempuan yang dipaksa ke tepi jurang—dan hanya ada satu pilihan: melompat atau mati tercekik. Tante Maharani berjalan setengah langkah di depannya. Tidak menyapa siapa pun. Tidak berusaha terlihat baik. Ia bukan ingin bersosialiasi. Ia berburu. Dan buruannya berdiri di dekat bar. Reza Suryadinungrat. Ellya melihatnya dari jauh. Dan jujur… Reza tidak terlihat seperti pewaris keluarga besar. Ia berdiri dengan bahu kaku, memegang gelas soda dengan dua tangan seolah takut menjatuhkannya. Ia memandang lampu-lampu di langit-langit lebih lama daripada ia memandang orang. Dan ketika seseorang lewat terlalu dekat, ia mundur, wajahnya memerah, hampir menjatuhkan minuman. Polos. Gugup. Canggung. Dan bodoh—bukan karena tidak bisa berpikir, tetapi karena ia tampak tidak tahu bagaimana mengendalikan tubuhnya sendiri. “Terlalu mudah,” pikir tante. Tante Maharani tidak mengenalnya. Tidak pernah bicara padanya. Tidak tahu apakah suaranya berat atau ringan. Tidak tahu bagaimana cara ia berpikir, berjalan, atau mengambil keputusan. Yang tante tahu hanyalah rumor: pria polos yang bisa dimanfaatkan. Tante mendekat ke Ellya, merapatkan bibir ke telinganya. “Lihat? Kau hanya perlu mendekat. Sisanya akan berjalan sendiri.” Ellya tidak menjawab. Karena ia sedang memperhatikan sesuatu: Reza benar-benar gugup. Bukan gugup manja, tetapi gugup nyata—tangan gemetaran, bibir kering, mata bergerak cepat. Ia seperti anak kecil tersesat di dunia orang dewasa. Tante tiba-tiba mendorong punggung Ellya kasar—cukup kuat untuk membuatnya hampir maju dua langkah sekaligus. “Pergi ke sana.” Ellya menoleh sedikit. “Jangan dorong.” “Aku bilang pergi.” “Tante tidak perlu—” Namun tangan tante kembali menekan punggung Ellya, lebih keras. Orang-orang di sekitar menoleh sebentar, tetapi tidak ada yang peduli. Dunia mereka terlalu sibuk dengan urusan masing-masing untuk memperhatikan perempuan muda yang didorong seperti boneka. Ellya menarik napas panjang dan berjalan. Gaun merah itu memotong kerumunan seperti nyala api. Setiap langkahnya terkontrol. Setiap gerakannya dingin dan elegan. Ketika ia mendekat, Reza melihatnya. Dan panik. Bukan panik sopan. Bukan panik malu. Panik total. “Oh!” Reza hampir tersedak soda. “Eh—eh—hai. Halo. Hai. Eh… kamu—kamu… cantik sekali.” Ia menutup mulutnya sendiri. “Ah! Maksudku bukan begitu! Ya kamu memang cantik… tapi aku—eh—aku bodoh ngomongnya.” Ellya menatapnya datar. “Halo.” Reza tersenyum kikuk. “A-aku… Reza. Kamu siapa?” “Ellya.” “Oh.” Reza mengangguk cepat. “Nama kamu cantik juga. Kayak kamu. A-aku ngomong apa sih…” Tante mengawasi dari jauh, tidak mendekat. Ia tidak mengenal Reza dan tidak ingin berbicara padanya. Yang ia tahu hanya: Reza berada di tempat yang tepat untuk dirusak. “Iya… aku memang bodoh,” kata Reza tiba-tiba sambil mengusap tengkuknya. “Orang bilang aku lamban. Jadi kalau aku ngomong aneh—maaf.” Ellya tidak mengerutkan kening. Tidak kasihan. Tidak simpati. Ia hanya menganalisis. “Tidak apa,” katanya datar. “Oh! Syukurlah…” Reza tersenyum polos, nyaris lega. “Kamu… kamu nggak marah ya?” “Kenapa harus marah?” Reza terdiam. Seolah pertanyaan itu terlalu sulit baginya. Ellya duduk di kursi bar. Reza mengikuti—nyaris jatuh karena kursi bar lebih tinggi dari perkiraannya. “Eh! Astaga…” Reza memegang meja agar tidak jatuh penuh. “Maaf banget… aku memang selalu ceroboh…” Ellya tetap tenang. “Tidak apa.” Reza menatapnya lama, lalu berkata lirih, “Kamu… tidak seperti orang lain.” “Bagaimana?” “Orang lain… suka ketawa kalau aku salah.” Reza memainkan sedotannya. “Tapi kamu… tidak.” Ellya menatap matanya. Dalam. Dan dalam sepersekian detik itu, ia melihat sesuatu: Reza benar-benar polos. Tidak pura-pura. Tidak menipu. Dan itu membuat rencana ini terasa lebih kotor. Dari jauh, Tante Maharani mengangkat dagu sebagai tanda: lanjutkan. Ellya menahan napas sejenak. Ia tidak gugup—bukan tipe perempuan seperti itu. Dia hanya mencoba menahan diri dari satu kenyataan: Bahwa ia baru saja didorong ke arah seseorang yang tidak pantas dijadikan korban. Namun ia harus melakukannya. Demi kebebasannya. “Ellya… kamu mau duduk dekat sini?” tanya Reza polos. “Di sana ada tempat lebih aman… aku takut kamu jatuh kayak aku tadi.” Ia menunjuk sudut bar yang lebih gelap. Ellya berdiri. “Ayo.” Reza tersenyum lebar—seperti anak kecil yang baru mendapat teman. Mereka berjalan ke sudut bar. Dan dari kejauhan, Tante Maharani tersenyum. Ia tidak mengenal Reza. Tidak peduli siapa dia. Tidak peduli apa yang ada di balik kepolosannya. Yang ia tahu : Reza adalah kunci kebebasan Ellya. Dan malam itu adalah permulaan rencana paling gelap yang pernah ia jalankan.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.3K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.8K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.2K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.0K
bc

My Secret Little Wife

read
132.4K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook