Sejak keluar dari ruang kerja Rully, Ellya berjalan lurus menuju kamarnya tanpa menoleh, tanpa memperlambat langkah, seolah jika ia berhenti satu detik saja seluruh dunia akan mengejar dan menelannya bulat-bulat. Begitu pintu kamar tertutup, ia bersandar pada panel kayu dan menutup mata rapat-rapat. Kepalanya berputar, bukan karena sakit fisik, tapi karena tanah di bawah hidupnya kembali bergeser—diam-diam, tajam, dan tanpa belas kasihan. Empat miliar. Rumah ibunya. Ancaman tante. Kecurigaan ayah mertua. Kepolosan Reza. Semuanya menumpuk di dadanya seperti batu saling bertindihan. Ia belum punya rencana. Belum punya uang. Belum punya jalan keluar. Dan ia menolak untuk melibatkan Reza. Ia hampir memejamkan mata lagi ketika udara di belakangnya berubah pelan. Tanpa suara pintu dik

