“Kita tidak ke sana.” Reza mengucapkannya tanpa ragu sambil membelokkan mobil, menjauh dari jalan lebar yang selalu mengarah ke rumah keluarganya. Lampu-lampu kota menyala di kejauhan, tapi arah mereka berlawanan. Jalanan menyempit. Aspal basah memantulkan cahaya kuning yang lembut. Ellya menoleh. “Ke mana?” “Ke rumahku,” jawab Reza. Ellya diam sejenak. “Rumah keluargamu?” Reza menggeleng. “Bukan.” Nada itu tegas, tapi tenang. Seolah keputusan itu sudah lama dibuat, hanya menunggu diucapkan. “Rumah kecil,” lanjutnya. “Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada aturan.” Ellya menatap wajah Reza dari samping. Ia melihat sesuatu yang berbeda. Bukan pewaris. Bukan pria yang sedang berperang dengan dunia. Hanya seseorang yang ingin pulang. Mobil berhenti di depan rumah satu lantai dengan pagar r

