Matahari baru saja mencapai puncak ketika pelayan mengetuk pintu kamar dan memberi tahu bahwa tamu datang menemui Ellya. Tamu yang “katanya” mengenal Ellya sangat dekat. Dalam hati, Ellya sudah menebak siapa. Namun detik ia menuruni tangga dan melihat perempuan itu berdiri di ruang tamu mewah, jantungnya tetap saja merosot. Tante Maharani. Dengan gaun hijau zamrud mencolok, perhiasan berkilauan, dan senyum predator yang selalu terlalu besar untuk wajahnya. Ia berdiri seperti pemilik tempat itu, bukan tamu. Dan yang lebih membuat d**a Ellya menegang: ia tampak sangat nyaman di rumah keluarga Suryadinungrat. “Ell—yaaa…” suara Tante Maharani melengking lembut, palsu, penuh nada manis yang justru membuat bulu kuduk berdiri. “Nak, kamu makin cantik saja tinggal di sini! Rumah ini benar-benar

