Reza terbangun lebih dulu. Cahaya pagi menyelinap lewat celah tirai, membentuk garis pucat di lantai kamar. Napas Ellya teratur di sisinya. Rambutnya menutupi sebagian wajah, telapak tangannya masih menggenggam ujung kaus Reza, seolah tidur tidak cukup kuat untuk membuatnya melepaskan. Reza menatap langit-langit, membiarkan detik berjalan. Ia jarang bangun dengan perasaan tenang. Biasanya pikirannya sudah penuh sebelum mata benar-benar terbuka. Namun pagi itu berbeda. Ada kehangatan yang menetap di d**a, sesuatu yang tidak ingin ia ganggu. Ia bergerak pelan, melepaskan genggaman Ellya tanpa membangunkannya. Duduk di tepi ranjang. Mengambil ponsel dari meja samping. Kebiasaan lama. Mengecek notifikasi. Email. Pesan. Judul berita itu muncul lebih dulu, tebal, dingin, dan tidak memberi wa

