“Laskar cukup!” ucap Sonya lirih namun tegas, kedua tangannya perlahan mendorong d**a bidang laki-laki itu. Laskar yang memeluknya erat perlahan mundur. Dia tahu, batasnya memang sampai di situ. Tidak ada gunanya menahan lebih lama, apalagi jika pelukan itu justru menimbulkan luka baru, bukan hanya untuk mereka, tapi untuk orang lain. “Maaf,” ucap Laskar pelan. Suaranya nyaris tak terdengar, hanya sebatas desir napas yang penuh kecewa. Dia melangkah mundur satu, dua langkah. Lalu diam di tempat, tak berniat mengejar lagi. Sonya menatap wajah Laskar sekali lagi, sebelum akhirnya berbalik. Kali ini, dia tidak akan kembali lagi. Langkahnya gemetar, tapi pasti. Dia tahu, dia harus menyelesaikan malam ini sendirian, dan menerima apa pun yang menanti di balik pintu rumah mereka. Setibany