Cukup lama Sonya terdiam, menunduk sembari menatap jemarinya yang saling menggenggam erat di pangkuan. Angin malam menyapu pelan helai rambutnya yang terlepas dari jepitan, namun tidak cukup untuk mengalihkan pikirannya dari pertanyaan barusan. Di depan sana, Laskar yang kini memandangi wajah cantik Sonya dari pantulan kaca kembali mengulas senyum tipis. Ada getir yang samar, campuran antara keikhlasan dan luka yang belum sembuh. “Kalaupun sudah cinta, nggak masalah, Onya ... kan wajar.” Suara itu lembut, seperti angin yang datang tanpa membawa badai. Tapi justru karena kelembutan itulah, d**a Sonya terasa makin sesak. Sonya mendongak, menatap punggung Laskar yang kaku di balik jaketnya yang masih sama seperti dulu. “Aku ... aku juga nggak tahu, Laskar, tapi yang pasti aku merasa sa