Sejenak melupakan tentang masalah yang sebenarnya cukup mengganggu, Sonya mencoba fokus dengan aktivitasnya. Dia menegakkan punggung, memejamkan mata sejenak, lalu mengembuskan napas pelan sebelum mulai menyentuh tuts laptop. Sesekali dia mengusap wajahnya, seolah bisa menghapus lelah dan kantuk yang masih menyisakan bekas. Tak ingin terlihat lesu atau kehilangan semangat, Sonya memaksakan senyum tipis di wajahnya. Dia harus terlihat biasa saja, terutama di depan Sandra, yang dari dulu punya kepekaan tinggi terhadap perubahan sekecil apa pun. Benar saja, belum setengah jam dia duduk, Sandra sudah mendekat. “Onya ... are you okay?" tanyanya sambil mengamati wajah Sonya dari atas ke bawah, curiga. Sonya mengangguk pelan. “Iya, I'm okay ... cuma kurang tidur aja,” jawab wanita itu cepa