Desi menggeram. Ia tak akan kalah begitu saja dari Melody hanya karena ancaman kecil itu. Ia mencoba berdiri, tetapi kakinya yang nyeri membuat ia tak bisa banyak bergerak. “Kamu harusnya tahu, kak Kavi itu milik siapa? Dia milik aku. Dan kamu nggak punya hak untuk menggoda dia, camkan itu!” Melody melangkah pelan menjauh dari Desi. Desi kembali menggeram. Ia sangat marah karena ucapan Melody. Dengan kesal, ia berdiri. Tangannya menumpu tubuhnya di kusen pintu lalu ia berjalan menyusul Melody. Ia menoleh ke arah pantry di mana Kavi baru saja selesai menyusun piring dan alat makan yang lain. Ia membelalak ketika melihat Kavi menyambut kedatangan Melody dengan senyuman yang sangat lebar. “Udah selesai?” tanya Melody. “Udah. Kamu masih marah sama aku?” Kavi merangkul Melody lalu menci