45. Suatu Pagi di Dieng

1769 Kata

DIMAS POV                   Bibirku mengembang, lagi dan lagi mengembang, tersenyum seperti orang bodoh menatap wajah ayu yang pagi ini masih terlelap. Kusingkirkan beberapa helai rambut yang menutupi wajanya yang damai. Mata yang biasanya membentuk bulan sabit ketika tersenyum, saat ini masih terpejam. Dan bibir mungil yang biasanya tersenyum tulus, saat ini masih terkatup rapat.                 Ilaku, aku menyebutnya begitu. Gadis—eh ralat, mulai beberapa jam yang lalu dia sudah bukan gadis, melainkan sudah menjadi wanitaku. Ila, Shila, Arshila, perempuan murah senyum yang sangat suka sekali membantu orang lain. Kadang keras kepala dan terlihat kuat di luar, tapi kadang bisa mendadak terlihat rapuh dan mudah menangis. Unik dan menarik, itulah kesan pertamaku tentang wanitaku ini.

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN