Bumi melonggarkan dasinya sedikit. Padahal pendingin udara di ruangan ini cukup untuk membekukan seluruh isi ruangan. Tapi Bumi tetap merasa gerah. Bagaimana tidak, sedari tadi dia sibuk menghalau laron-laron yang mengerumuni Kienar. Belum lagi gaun yang dikenakan Kienar, menurut Bumi terlalu rendah. Menonjolkan dengan cantiknya belahan d a d a Kienar yang menggoda. Dan belahan gaunnya yang sampai ke paha. Apa mesti segitu terbukanya? Bumi heran, siapa, sih yang memberikan gaun seperti ini pada gadisnya? Rasanya tidak mungkin jika Kienar yang dia kenal mau berpenampilan sangat, sangat, sangat menggoda seperti saat ini. Damn! Bumi tidak kuat lagi. Sepertinya tekanan darahnya naik semua ke kepala dan mau meledak. “Hei, Pak? Mau ke mana?” tanya Kienar ketika tangan Bumi menariknya cuk