2. umpan?

1058 Kata
Malam makin larut, dan suasana kampung benar-benar sunyi senyap. Di luar, angin malam sesekali berdesir pelan, menggoyang dedaunan pohon mangga di halaman depan. Namun, di dalam rumah tua peninggalan orang tua itu, hawa pengap justru makin terasa memeras keringat. Danu berbaring telentang di atas kasur kapuk kamarnya. Danu cuma memakai celana pendek hitam tanpa kaos, membiarkan d**a bidang dan perut kotak-kotaknya terekspos udara malam yang minim. Kedua tangannya ditekuk di belakang kepala, menatap langit-langit kamar yang remang-remang diterangi lampu bohlam lima watt. Pikiran Danu sama sekali tidak bisa tenang. Otak encernya yang biasa dipakai untuk mencerna materi kuliah di kota, malam ini mendadak macet, dipenuhi oleh bayangan lekuk tubuh seksi dan semok milik Mbak Sari. Danu menajamkan pendengarannya. Dari balik dinding triplek tipis yang membatasi kamarnya dengan kamar utama, terdengar suara gesekan kain yang halus. Rumah tua ini memang minim privasi. Sekat kamarnya cuma triplek lapuk yang bahkan punya beberapa celah kecil di sudutnya. Suara sekecil apapun dari kamar sebelah pasti akan terdengar jelas. Danu memiringkan tubuhnya, menghadap ke arah dinding triplek itu. Detak jantung pemuda itu mulai berpacu lebih cepat saat mendengar suara helaan nafas yang berat dan panjang dari arah sebelah. Itu suara Sari. Danu tahu betul, abangnya belum pulang jam segini. Katanya ada lemburan angkut kayu gelondongan di desa sebelah sampai subuh. Artinya, di rumah tua yang sepi ini, cuma ada Danu, Sari, dan bayinya yang sudah terlelap sejak insya tadi. “Hahhh ... kok gerah banget ya,” terdengar gumaman lirih Sari dari balik dinding. Suaranya terdengar begitu parau, mendayu-dayu penuh dengan nada frustrasi yang tertahan. Danu bangkit dari posisi tidurnya secara perlahan, hampir tanpa suara. Naluri jantannya yang tajam bergolak. Ia melangkah mendekati dinding triplek itu, lalu mendekatkan wajahnya ke salah satu celah kecil yang tertutup bayang-bayang lemari tua. Melalui celah sempit itu, pandangan mata Danu langsung terkunci pada sosok Sari. Di dalam kamarnya yang diterangi lampu tidur berwarna kuning temaram, Sari sedang berdiri di depan cermin rias kayu. Wanita itu tampaknya baru selesai membasuh muka atau mandi malam. Rambut hitamnya yang panjang dibiarkan tergerai basah di bahu, berbeda dengan kulit leher dan dadanya yang putih mulus terkena pantulan cahaya lampu. Sari malam ini memakai daster satin tipis warna hitam tanpa lengan. Karena bahannya yang jatuh dan licin, daster itu melekat sempurna di tubuh sintalnya, menonjolkan lekuk pinggulnya yang luar biasa semok dan gundukan dadanya yang padat berisik. Danu menelan ludah berat. Sesuatu di balik celana pendeknya mendadak menegang dan berdenyut kencang. Aura berbahaya Danu makin menyala saat melihat apa yang dilakukan kakak iparnya selanjutnya. Sari sengaja tidak mengancingkan bagian atas dasternya. Tangan lentiknya bergerak mengoleskan minyak telon ke area leher, lalu turun perlahan ke tulang selangka, dan terus mengusap lembut ke arah belahan dadanya yang indah. Gerakan tangan Sari begitu lambat, seolah-olah wanita itu sedang menikmati sentuhannya sendiri demi mengusir rasa sepi yang menyiksa batinnya selama ini. Sebagai seorang bidan desa yang mengerti anatomi tubuh, Sari tahu betul rasa haus biologis yang bergejolak di dalam dirinya. Pernikahannya dengan Parji yang loyo dan selalu kelelahan membuatnya layu sebelum berkembang. Dan kehadiran Danu, mahasiswa kota yang tampan, gagah, dan berenergi penuh, seolah menjadi bensin yang siap meledakkan gairah terpendam di d**a Sari. Tiba-tiba, Sari menghentikan usapan tangannya. Matanya menatap ke arah dinding triplek yang membatasi kamar mereka, tepat ke arah celah tempat Danu mengintip. Sari tersenyum tipis. Senyuman yang sangat tipis, misterius, sekaligus super menggoda. Sari tahu Danu belum tidur. Ia sengaja membuat suara-suara itu karena tahu betul dinding rumah ini sangat tipis. Sari sengaja memberikan umpan malamnya. Sari berjalan pelan menuju pintu kamarnya yang sengaja dibiarkan sedikit renggang, lalu melangkah keluar menuju ruang tengah yang gelap. Danu yang cerdik langsung tanggap. Ia menjauhkan wajahnya dari dinding, berbalik, dan membuka pintu kamarnya dengan gerakan santai namun pasti. Danu melangkah keluar ke ruang tengah yang remang, hanya mengandalkan cahaya dari sela-sela kamar. Di dekat meja makan kayu, Sari sedang berdiri membelakanginya, berpura-pura menuangkan air minum dari teko ke dalam gelas. "Belum tidur, Nu?" tanya Sari tanpa membalikkan badan. Suaranya rendah, bergetar halus di keheningan malam kampung yang pekat. Danu berjalan mendekat, langkah kakinya yang tanpa alas terasa dingin di lantai semen, tapi darah mudanya justru terasa mendidih. Danu berhenti tepat di belakang punggung Sari. Jarak mereka dekat sekali, sampai Danu bisa mencium perpaduan aroma minyak telon yang hangat dan wangi tubuh khas Sari yang manis dan matang. "Belum, Mbak. Kamar saya gerah banget, gak bisa tidur," sahut Danu dengan suara berat yang serak dan jantan, sengaja membisikkannya tepat di dekat tengkuk Sari yang berambut basah. Bulu kuduk Sari meremang seketika mendengar bisikan itu. Tangan lentiknya yang memegang gelas agak gemetar sampai beberapa tetes air tumpah ke meja. Sari membalikkan tubuhnya perlahan, membuat bagian depan tubuhnya yang seksi dan semok kini berhadapan langsung dengan d**a bidang Danu yang bertelanjang d**a. Di kegelapan yang remang, mata mereka saling mengunci. Tatapan Sari tampak layu, sayu, dan penuh damba yang sangat kentara. Matanya turun menatap bibir tegas Danu, lalu turun lagi memperhatikan lekuk otot perut kotak-kotak adik iparnya yang berkilau seksi oleh sedikit keringat malam. "Iya emang gerah banget malam ini ... Kang Parji juga gak pulang, lembur sampai subuh," lirih Sari. Suaranya melemah, hampir seperti desahan halus yang lolos begitu saja. Sari tidak mundur. Alih-alih menjauh, ia justru menggeser tubuhnya selangkah lebih maju, membuat gundukan dadanya yang padat dan dilapisi daster tipis itu bergesek pelan dengan d**a bidang Danu yang bidang. Sentuhan kulit ke kain itu terasa seperti sengatan listrik bertegangan tinggi yang langsung membakar akal sehat keduanya. Danu tersenyum miring, senyuman berbahaya yang penuh kuasa. Tangan Danu yang kekar dan hangat bergerak berani, mendarat di pinggang ramping Sari, meremasnya pelan di sana untuk mengunci tubuh semok sang kakak ipar agar tidak bisa kabur. "Kalau Kang Parji gak pulang ... berarti malam ini Mbak Sari sendirian dong?" bisik Danu penuh penekanan, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Sari yang sudah mulai kehilangan pertahanan. Sari menggigit bibir bawahnya, napasnya mulai memburu, naik turun dengan cepat di atas d**a Danu. Tangan lentiknya yang bebas kini dengan berani mendarat di bahu kekar Danu, mencengkramnya pelan seolah mencari pegangan karena kakinya mendadak terasa lemas diguyur gairah yang meletup-letup. "Danu ... Mbak kesepian banget emang tiap malam," ucap Sari dengan suara parau, menyerah total pada umpan yang ia tebar sendiri sejak siang tadi. Jebakan jantan Danu sudah mengunci mangsanya dengan sempurna dan malam yang panjang di kampung halaman ini baru saja dimulai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN