1. Kembang Desa
Deru mesin ojek pangkalan itu mendadak mati, menyisakan kesunyian khas kampung yang cuma dihiasi suara jangkrik sore.
Danu turun dari motor, membetulkan letak tali ransel besarnya yang terasa berat.
Setelah menyerahkan selembar uang dua puluh ribuan kepada si tukang ojek, Danu berdiri diam di tepi jalan setapak yang berdebu, menatap sebuah rumah yang sangat familiar di depannya.
Rumah batako setengah kayu peninggalan almarhum orang tuanya.
Sudah hampir tiga tahun Danu merantau ke kota besar.
Berkat otak encernya, ia bisa bertahan hidup di sana lewat jalur beasiswa kuliah, ditambah kerja paruh waktu sana-sini yang bikin badannya makin tegap dan atletis.
Dada bidang, perut rata kotak-kotak, plus wajah tampan dengan rahang tegas membuat Danu tumbuh jadi sosok pemuda yang mempesona sekaligus memancarkan aura berbahaya bagi wanita yang menatapnya.
Danu menghembuskan napas panjang. Pikirannya membayangkan rumah ini bakal sepi dan berdebu, cuma diisi oleh Parji, abang kandungnya yang kaku dan cuma pekerja serabutan.
Namun, dahi Danu mendadak berkerut saat matanya menangkap sebuah papan nama kayu yang masih baru, terpaku di tiang teras rumah.
Praktek Bidan Sari, Amd. Keb.
"Bidan Sari? Siapa?" gumam Danu dalam hati. Rasa penasarannya memuncak.
Danu melangkah tegap, melewati halaman depan yang ditumbuhi pohon mangga.
Pintu kayu depan rumahnya yang agak lapuk itu ternyata tidak dikunci, melainkan sedikit terbuka.
Danu mendorongnya pelan tanpa bersuara.
Begitu kakinya menginjak lantai semen ruang tengah, langkah Danu langsung terkunci.
Pandangan matanya mendadak lurus, menatap sosok wanita yang sedang berdiri membelakanginya di dekat ranjang kapuk tanpa dipan di sudut ruangan.
Wanita itu sedang menimang seorang bayi yang masih merah.
Wanita itu cuma memakai daster batik rumahan warna hijau daun yang bahannya sudah agak menipis.
Danu menelan ludah seketika. Dari posisinya berdiri, daster tipis itu bergesek ketat mengikuti gerakan tubuh si wanita, mencetak dengan sangat jelas lekuk pinggulnya yang berisi, montok, dan benar-benar semok.
Aroma ruangan itu mendadak menyerbu indera penciuman Danu.
Wangi bedak bayi, minyak telon, bercampur dengan aroma tubuh khas wanita dewasa yang ranum dan begitu menggoda iman darah mudanya.
"Siapa, ya?"
Suara lembut namun mendayu itu memecah keheningan.
Wanita itu berbalik, menatap Danu yang masih berdiri mematung di dekat pintu.
Danu terpaku. Wanita di depannya ini luar biasa cantik.
Kulitnya putih bersih, tipikal kulit perempuan berpendidikan yang jarang kena sengatan matahari sawah.
Wajahnya segar dengan bibir bawah yang agak tebal, memberikan kesan seksi yang alami.
Daster hijaunya yang longgar tidak mampu menyembunyikan gundukan dadanya yang padat berisi, efek dari seorang ibu yang baru saja melahirkan.
"Eh ... kamu Danu, ya? Adiknya Kang Parji?" Tanya wanita itu, matanya langsung berbinar menatap Danu dari atas sampai bawah. Pandangan matanya sempat tertahan beberapa detik di bagian d**a bidang Danu yang tercetak di balik kaos ketatnya.
"Iya, Mbak. Saya Danu. Ini ... Mbak siapa, ya? Terus Kang Parji mana?" Danu berusaha menata suaranya agar tetap terdengar santai, meski di dalam dadanya ada debaran aneh yang mendadak berpacu liar.
Wanita itu tersenyum manis, senyuman yang entah kenapa terlihat agak layu namun sarat akan pesona terpendam. "Nama saya Mbak Sari dan Istrinya Kang Parji. Berarti Mbak ini kakak ipar kamu sekarang. Kang Parji belum cerita ya kalau kami sudah nikah setahun lalu?"
Danu menggeleng pelan, otaknya mendadak nge-blank.
Gila, pikir Danu. Bagaimana bisa abang kandungnya yang usianya sudah paruh baya, kaku, dan berpenampilan loyo itu bisa mempersunting kembang desa berpendidikan setingkat bidan yang seksi dan semok seperti ini?
"Kang Parji masih di ladang orang, Nu. Katanya lanjut borongan angkut kayu sampai malam. Biasalah, dia mah kalau kerja suka lupa rumah," kata Sari sambil menghela napas panjang.
Dada padatnya naik turun dengan kentara, mengirimkan sinyal frustasi yang halus. "Ya sudah, kamu taruh dulu tasnya di kamar kamu yang dulu. Kamarnya sudah Mbak bersihin kok."
Danu mengangguk. "Makasih, Mbak Sari."
Danu berjalan menuju kamar lamanya yang berada tepat di sebelah kamar utama.
Hanya dibatasi oleh sekat dinding triplek tipis peninggalan orang tua mereka.
Setelah menaruh tas, Danu melepas kaosnya yang agak basah oleh keringat perjalanan, menyisakan celana pendek hitam.
Stamina mudanya yang meletup-letup membuat tubuhnya berkeringat halus, memamerkan otot-ototnya yang matang di bawah temaram lampu kampung.
Ketika Danu keluar kamar untuk membasuh muka di dapur, ia kembali melewati ruang tengah. Sari rupanya masih di sana, baru saja menidurkan bayinya di dalam kelambu.
Sari menoleh, dan begitu melihat adik iparnya berjalan telanjang d**a dengan tubuh sekekar itu, wajah cantiknya langsung merona merah.
Sari menelan ludah, matanya tidak bisa berbohong kalau ia sangat mengagumi bentuk tubuh jantan Danu yang berbanding terbalik dengan suaminya yang kurus dan kuyu.
Sari sengaja tidak mengalihkan pandangan. Sebaliknya, dia malah berjalan mendekati meja kayu di dekat Danu, lalu membungkuk agak rendah untuk mengambil botol s**u bayi.
Gerakan membungkuk itu otomatis membuat daster tipisnya tertarik ketat di bagian b****g, memamerkan keindahan tubuh bagian belakangnya tepat di depan mata Danu.
Bukan cuma itu, kancing daster paling atas yang sengaja dibiarkan terbuka memperlihatkan sekilas belahan dadanya yang putih mulus.
Danu yang cerdik langsung menangkap basah umpan tersebut.
Sebagai mahasiswa kota yang peka, Danu tahu ini bukan sekadar gerakan biasa.
Ini adalah kode tersembunyi dari seorang wanita kesepian yang sedang butuh belaian.
"Panas banget ya siang menjelang sore begini, Dan. Sampai gerah banget Mbak di dalam rumah," celetuk Sari tiba-tiba, suaranya terdengar agak parau sambil mengibas-ngibas daster bagian depannya dengan tangan lentiknya.
Danu berhenti melangkah, berdiri hanya berjarak satu jengkal di samping Sari.
Aroma manis tubuh Sari kembali menyengat hidungnya, membuat sesuatu di balik celana pendek Danu mendadak berdenyut kencang.
Danu tersenyum miring, senyuman berbahaya yang penuh arti.
"Iya, Mbak. Di dalam rumah tua begini emang hawanya lebih cepat pengap. Apalagi kalau gak ada yang nemenin," bisik Danu dengan suara rendah yang berat dan jantan.
Sari mendongak, menatap langsung ke dalam mata elang Danu.
Bukannya menjauh karena paha mereka yang terhalang kain sudah saling bersentuhan, Sari justru mengikis jarak, menatap bibir Danu dengan pandangan layu yang penuh damba.
Pintu gerbang hubungan terlarang di bawah atap rumah tua itu, tampaknya baru saja dibuka lebar-lebar oleh sang bidan seksi sendiri.