Sejak kejadian malam itu, di mana Tama menepis tangan istrinya dengan kasar, hubungan keduanya tampak semakin jauh. Sepasang suami istri itu seakan hidup dengan dunianya masing-masing, meskipun mereka tinggal dalam satu atap.
Meskipun begitu, Anya masih menjalankan perannya sebagai seorang istri dengan baik. Dia tidak pernah berbicara ataupun bertanya sesuatu yang bisa memancing emosi suaminya karena untuk menjaga hatinya sendiri.
Setiap hari suaminya malah selalu pulang larut malam. Waktu pria itu seakan telah habis hanya untuk bekerja. Belakangan ini pria itu juga sering melakukan perjalanan bisnis ke luar. Seperti sekarang, Tama memberitahunya jika dia akan pergi ke luar kota selama tiga hari, karena ada yang harus dia urus di kantor cabang.
“Mas pergi berapa hari? Supaya aku bisa siapin keperluan Mas,” tanya Anya untuk memastikan.
“Hanya tiga hari,” jawab Tama singkat.
Pria itu menjawab pertanyaan istrinya tanpa menoleh. Sejak tadi suaminya memang sibuk dengan ponselnya. Padahal dulu, jika sedang di rumah Tama jarang pegang ponsel. Hanya sesekali lelaki itu memeriksa pesan masuk dari Hendra. Namun, akhir-akhir ini pria itu seakan tidak bisa terpisahkan dengan ponselnya.
Anya melihat suaminya seperti itu hanya bisa menghela napas panjangnya. Pemandangan seperti sekarang sudah biasa dia lihat setiap harinya. Daripada dia dibuat kesal dengan sikap suaminya, lebih baik dia segera menyiapkan keperluan pria itu untuk tiga hari ke depan.
Tak memerlukan waktu lama, akhirnya semua selesai. Kemudian Anya meletakkan koper yang akan dibawa suaminya di dekat sofa kamar agar mudah terlihat.
Keesokan harinya Tama berangkat pagi-pagi sekali bersama dengan Hendra. Seperti biasa, Anya selalu mengantar hingga teras rumah dan mencium punggung tangan suaminya. Hal yang tidak pernah ia lewatkan selama menjadi istri Tama.
Setelah mobil yang membawa suaminya meluncur, Anya kembali masuk ke dalam rumah untuk bersiap berangkat ke kantor. Dia juga memiliki kesibukan sendiri selain sebagai istri.
Setibanya di kantor, Anya langsung menuju ke ruangannya. Baru saja dia duduk di kursi kebersarannya, ia pun langsung memeriksa pesan di ponselnya. Dari deretan pesan yang masuk tidak ada satu pun nama suaminya. Perempuan itu langsung menghembuskan napas panjangnya sambil meletakkan ponselnya di sisi kanannya.
“Pagi, Bu Anya,” sapa Nolla.
Anya pun langsung menolehkan kepalanya ke arah asal suara. Karena mood-nya sedang buruk, wanita itu pun tidak membalas sapaan tersebut, dia malah mengerucutkan bibirnya.
Melihat atasannya sedang dalam mood yang tidak baik, Nolla pun memicingkan matanya. Gadis itu seolah-olah bertanya melalui tatapan matanya.
“Yah … begitulah,” jawab Anya sambil mengedikkan bahunya seakan mengerti maksud tatapan Nolla.
Anya merasa sangat bersyukur dengan kesibukan yang menguras tenaga dan pikirannya. Karena dengan begitu, dia bisa melupakan permasalahan yang terjadi di dalam rumah tangganya, meskipun hanya sejenak.
Biasanya jika tidak ada orang lain, Nolla pasti akan langsung memberikan pelukan untuk sahabatnya. Dia tahu jika rumah tangga sahabat baiknya itu belakangan ini sedang tidak baik-baik saja.
Di samping perubahan sikap Anya, dia juga melihat sendiri bagaimana Tama memandang teman makan siangnya pada waktu itu. Bahkan, terkadang Anya juga mencurahkan isi hatinya tentang perubahan sikap Tama. Gadis itu hanya bisa menatap sahabatnya yang berdiri di sebelahnya dengan tatapan iba.
“Bu, untuk jadwal hari Kamis kemungkinan besar di-pending hingga minggu depan, karena pihak panitia masih menyelesaikan masalah booking tempat yang katanya ada kesalahpahaman dari pihak hotel,” ucap Nolla menjelaskan.
Anya tampak terdiam sejenak. Wanita itu selalu memikirkan dahulu apa yang akan dia putuskan, karena dia tidak ingin salah dalam mengambil keputusan dengan gegabah.
“Kalau benturan dengan jadwal yang lain, kamu atur lagi, tapi kalau pihak panitianya keberatan, kamu cancel aja,” jawab Anya dengan tegas.
“Baik, Bu,” ucap Nolla.
Biarpun mereka berdua bersahabat baik, tapi Nolla tetap bersikap profesional. Dia akan memperlakukan Anya sebagai atasannya jika berada di lingkungan kerja. Namun, terkadang Anya sendiri yang meminta Nolla agar bersikap tidak terlalu kaku padanya. Akhirnya keduanya sepakat akan bersikap profesional jika ada karyawan lain.
Tak terasa waktu cepat berlalu. Sekarang sudah waktunya pulang. Seperti biasanya, sebelum pulang kerja Nolla selalu masuk ke ruangan atasannya terlebih dahulu.
Tok … tok … tok!
Gadis itu mengetuk ruangan Anya terlebih dahulu sebelum masuk. Namun, sudah beberapa kali dia mengetuk pintu, belum juga mendapat jawaban dari dalam. Akhirnya ia pun memutuskan untuk langsung membuka pintu dengan perlahan.
Setelah pintu terbuka, ia mendapati sahabatnya yang sedang berdiri dengan melipat kedua tangan di depan dadanya sambil menatap pemandangan kota melalui jendela kaca besar yang ada di ruangan itu. Matanya memang seakan menatap hiruk pikuk kota yang terhampar di depannya, tapi pikirannya melayang entah ke mana.
Lagi-lagi, Nolla melihat atasannya melamun. Tentu saja itu membuat perempuan itu seketika mendengus. Hatinya merasa tidak tega ketika melihat keadaan Anya yang seperti ini. Entah kenapa dia merasa jika Anya selalu mendapat ujian di dalam rumah tangganya karena dulu pernikahannya dengan Dipta juga diterpa badai hingga terjadi perceraian.
Dengan langkah pelan, Nolla mendekati sahabatnya yang masih berdiri. Sepertinya Anya terlalu larut dalam lamunannya hingga tidak menyadari kedatangan sang sahabat. Setelah berdiri di sebelah Anya, Nolla pun ikut melihat pemandangan kota dengan kedua tangan yang juga terlipat di depan dadanya sama seperti yang dilakukan oleh sahabatnya.
“Apa masih kepikiran soal suami kamu?” tanya Nolla telak.
Mendengar ucapan sahabatnya, seketika membuat Anya tersadar dari lamunannya dan langsung menolehkan kepalanya dan menatap sekilas ke arah Nolla sebelum menatap ke depan kembali.
“Kalau aku bilang nggak, pasti kamu nggak akan percaya,” jawab Anya.
“Pasti soal wanita itu lagi?” tanya Nolla kembali.
Memang Anya akui senyum suaminya ketika sedang bersama dengan wanita asing itu selalui menghantuinya. Terlebih akhir-akhir ini dia tidak pernah lagi melihat senyum itu terbit dari bibir sang suami. Padahal di dalam sudut hatinya yang paling dalam, sebenarnya dia tidak rela jika suaminya tersenyum pada wanita lain.
Melihat sahabat baiknya diam tak membuka mulutnya, Nolla pun sudah bisa memastikan jawabannya. Ia pun kemudian membuka suaranya karena tidak tega melihat Anya yang seperti ini terus menerus.
Sebagai seorang sahabat tentu saja dia tidak ingin melihat sahabatnya terpuruk kembali seperti pada waktu menjadi istri Dipta dulu.
“Boleh aku memberikan saran?” tanya Nolla kembali.
Mendengar pertanyaan dari sahabatnya, seketika membuat Anya menganggukkan kepala. Kedua sahabat itu berbincang tanpa saling menatap karena sama-sama melihat pemandangan kota yang dapat mereka lihat dengan jelas dari kaca besar yang ada di ruangan tersebut.
“Jangan terlalu terbawa dengan asumsi negatif, karena itu akan merusak hati dan pikiran kamu. Bisa jadi wanita itu salah satu teman atau rekan bisnisnya. Kalau kamu masih ragu, lebih baik kamu tanya langsung sama dia. Intinya jangan sampai pemikiran negatif menguasai kamu,” ucap Nolla dengan panjang lebar.
Tentu saja Nolla tidak ingin melihat Anya terus-terusan larut dalam prasangkanya. Dia tidak ingin sahabat yang sudah bisa tertawa lepas itu kembali murung. Meskipun pada waktu itu dia melihat tatapan yang berbeda dari Tama kepada lawan bicaranya, dia tidak berani menyimpulkan begitu saja. Bisa saja pengelihatannya waktu itu keliru, bukan?
Mendengar penuturan dari sahabatnya, seketika Anya pun terdiam. Dia tampak sedang meresapi setiap kata yang masuk ke dalam telinganya. Sudah berulang kali dia mencoba untuk mengenyahkan prasangka buruknya. Namun, bayangan suaminya yang tersenyum kala itu seperti hantu yang selalu bergentayangan di pikirannya.
Sekarang Anya merasa lebih lega setelah mendengar penuturan dari sahabatnya. Pemikirannya seolah-olah mendapatkan sebuah dukungan dari orang yang dia percaya. Wanita itu pun seketika tersenyum dan langsung memeluk Nolla dengan begitu erat.
“Makasih, La. Selama ini aku sudah berusaha ngilangin prasangka itu tapi selalu muncul lagi,” ucap Anya memberi tahu.
“Karena kamu nggak mau buang semuanya dan masih ada yang kamu sisakan sedikit, makanya muncul lagi,” jawab Nolla sambil membalas pelukan sang sahabat.
Akhirnya wanita itu memutuskan untuk tidak mau lagi memikirkan wanita yang sedang makan siang bersama dengan suaminya. Dia tidak mau ambil pusing lagi. Biarlah itu menjadi urusan suaminya. Dia akan fokus mengembangkan karirnya saja.