Sejak percakapannya dengan Nolla, Anya seakan memiliki semangat baru dan terlihat kembali ceria. Dia telah memutuskan untuk tidak akan memikirkan lagi mengenai perubahan sikap suaminya.
Biarlah semua berjalan seperti air, pikirnya. Jika Tama memang merasa lebih nyaman dengan sikap dinginnya seperti sekarang, buatnya itu tidak masalah.
Anya telah mengalami hal yang lebih berat dari sekedar sikap dingin. Bahkan, nyawanya pernah hampir melayang di tangan mantan suaminya dulu. Jadi masalah yang menerpa rumah tangganya ini bukanlah apa-apa.
Perubahan sikap Anya juga dirasakan oleh Tama. Lelaki itu sempat keheranan dengan istrinya yang terlihat lebih santai menghadapi dirinya.
“Mas ada meeting pagi, jadi nggak bisa antar kamu,” ucap Tama memberi tahu.
“Bukannya Mas memang nggak pernah antar aku lagi, ya?” jawab Anya dengan santainya.
Bahkan, wanita itu menjawab ucapan suaminya tanpa menoleh dan tetap fokus dengan sarapannya. Berbeda dengan Tama yang seketika menatap istrinya dengan tatapan keheranan, bahkan dia sampai mengerutkan dahinya.
Tak lama kemudian, Anya telah selesai dengan sarapannya. Detik kemudian ia segera beranjak dari duduknya dan berpamitan pada sang suami.
“Aku berangkat dulu soalnya ada pertemuan dengan klien jam delapan,” ucap Anya memberi tahu.
Tak lupa Anya juga mencium punggung tangan suaminya terlebih dahulu sebelum berangkat. Meskipun dia memutuskan untuk tidak mau ambil pusing lagi dengan sikap suaminya, dia tetap harus menjaga marwahnya sebagai seorang istri. Bagaimanapun juga Tama adalah suami yang harus dia jaga kehormatannya.
Tama hanya bisa menatap kepergian sang istri dalam diam. Ucapan perempuan itu seperti sebuah tamparan bagi dirinya. Memang dia akui, sejak kedatangan Vani, dia tidak pernah lagi mengantar istrinya.
Bahkan, di dalam hati pria itu juga mengakui jika sekarang waktunya lebih banyak dia habiskan untuk menemani mantan kekasihnya tersebut karena saat ini Vani memang sedang butuh seorang teman, menurutnya. Wanita itu juga sedang sedih karena masalah yang menimpa rumah tangganya.
Tanpa Tama sadari, jika dia mencoba membantu mantan kekasihnya dengan mengorbankan perasaan istrinya. Bahkan, mungkin saja rumah tangganya juga sedang dipertaruhkan.
Semakin hari Anya kian sibuk. Bahkan, wanita itu juga sering pulang terlambat. Dia memang sengaja menyibukkan diri karena ada mimpi yang ingin dia raih. Di samping itu, dia juga ingin mengembangkan karirnya agar semakin sukses di usia mudanya dan akhirnya akan membuat namanya semakin besar pula.
Kesibukan Anya juga dirasakan oleh Tama. Suatu hari pria itu pulang kerja lebih awal dari biasanya. Ketika dia masuk ke dalam kamar, dia tidak mendapati istrinya. Namun, dia melihat air minum sudah tersedia di tempat biasa Anya menyiapkannya.
“Tumben dia belum pulang,” ucap Tama pada dirinya sendiri sambil melepas dasinya.
Kemudian lelaki itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya yang terasa lengket. Setelah selesai dengan urusannya di kamar mandi, ia pun lantas masuk ke ruang wardrobe.
Lagi-lagi dia dibuat terkejut karena pakaian gantinya sudah tersedia di tempat biasanya. Meskipun wanita itu sangat sibuk, dia tetap menjalankan kewajibannya dengan sangat baik. Bahkan, wanita itu tidak pernah lupa memberi tahu sang suami jika akan pulang terlambat.
Malam semakin larut. Tepat jam sebelas malam, Anya baru memasuki kamar. Wajah cantiknya juga tampak terlihat lelah. Setelah melihat ke sekeliling kamar, ia pun langsung mendegus.
“Pasti dia ada di ruang kerja lagi, huh …,” lirih Anya sambil menghembuskan napas panjangnya.
Kemudian ia pun bergegas ke kamar mandi untuk berendam karena tubuhnya terasa sangat lelah. Aroma terapi yang menguar dari bath bomb membuatnya bisa sedikit rileks.
Kurang lebih selama satu jam akhirnya perempuan itu keluar dan berganti pakaian. Setelah selesai mengenakan serangkaian skincare, ia pun bergegas naik ke atas ranjang. Tak memerlukan waktu lama, akhirnya ia pun terpejam. Rasa lelah karena aktifitas seharian telah menguras seluruh tenaganya.
Hampir jam dua dini hari Tama pun masuk ke dalam kamar. Dia melihat istrinya sudah tertidur pulas. Ia pun kemudian menatap wajah Anya yang tampak damai di dalam tidurnya.
“Kamu pasti lelah banget,” batin Tama sambil mengecup lembut dahi istrinya.
Di dalam benak pria itu tiba-tiba saja terbersit rasa bersalah karena telah mengabaikan wanita sesempurna Anya. Tak lama kemudian ia pun menyusul sang istri naik ke ranjang dan ikut memejamkan matanya.
Malam ini sepasang suami istri itu pun tidur di atas satu ranjang. Padahal sering kali mereka tidur di tempat terpisah. Tama yang sering tertidur di ruang kerjanya, sedangkan Anya di dalam kamar.
***
Pagi-pagi buta, Anya sudah terbangun dan terkejut ketika mendapati ada sebuah tangan yang sedang memeluk perutnya. Untuk sejenak netranya menatap wajah suaminya yang masih terpejam.
“Ternyata kamu masih ingat tidur di ranjang kita,” batin Anya sambil tersenyum miris.
Entah apa yang ada di dalam pemikiran wanita cantik itu hingga sampai menghela napas beratnya. Kemudian dengan perlahan, ia pun memindahkan tangan Tama agar dirinya bisa bangun.
Terpaksa Anya berangkat pagi-pagi sekali sebelum suaminya bangun karena ada pertemuan penting dengan rekan bisnis perusahaannya. Semalam dia belum sempat bilang karena merasa kelelahan dan akhirnya tidur lebih dulu sebelum suaminya kembali ke kamar. Meskipun begitu, Anya tidak lupa mengirim pesan pada Tama untuk memberitahunya.
Wife: Mas, aku berangkat duluan karena ada pertemuan penting dengan CEO Hagaanz, mungkin nanti juga akan pulang terlambat. Tadi aku nggak tega mau bangunin kamu.
Tiba saatnya pertemuan dengan CEO Hagaanz. Di ruang meeting, sudah berkumpul beberapa orang untuk membahas rencana proyek yang baru mereka sepakati. CEO Hagaanz terlihat masih muda. Usianya kira-kira sama dengan CEO Himalaya & Co, Senopati Ganesha.
Yang Anya tahu CEO Hagaanz bukan hanya sekedar rekan bisnis perusahaannya, tapi lelaki bertubuh tegap itu juga sahabat baik kakaknya sejak masih SMA yang bernama Bisma Angkasa. Lelaki tampan yang sampai saat ini masih betah hidup membujang.
“Rencana yang Anda buat itu sangat luar biasa, saya yakin proyek ini akan sukses,” ucap Bisma setelah mendengar presentasi dari Anya.
Pria pemilik garis rahang tegas itu merasa puas dengan rencana marketing yang Anya jelaskan. Selama ini dirinya hanya mendengar kecerdasan perempuan itu dari para pengusaha yang selalu memuji. Namun, kali ini dia melihat sendiri betapa cerdasnya perempuan itu.
“Terima kasih, Pak Bisma. Semua karena ada kerja sama yang baik dari rekan-rekan satu tim,” ucap Anya dengan ramah.
Meskipun Bisma adalah sahabat kakak laki-lakinya, wanita itu tetap harus bersikap profesional. Di samping itu, dirinya memang belum pernah bertemu dengan Bisma secara langsung sebelumnya.
Berbeda dengan Seno, pria itu tampak tersenyum bangga dengan hasil kerja adik perempuannya. Memang sangat tepat julukan wanita dengan segala kecerdasannya diberikan untuk Anya.
Adiknya memang cantik dan juga cerdas. Sejak duduk di bangku sekolah, wanita itu selalu meraih peringkat pertama. Bahkan, tidak sedikit penghargaan yang dia kumpulkan dari prestasinya.
Akhirnya meeting pun berakhir. Setelah membereskan berkas-berkas, Anya dan Nolla serta peserta meeting yang lainnya mulai meninggalkan ruangan, sedangkan Seno dan Bisma berjalan menuju ke ruangan CEO muda yang terkenal dingin dan arogan itu. Kedua sahabat itu masih ingin mengobrol karena sudah lama tidak bertemu.
“Adek lo makin cantik aja, sayangnya gue telat meminangnya,” ucap Bisma sambil meraih cangkir yang berisi kopi hitam kesukaannya.
Mendengar penuturan dari sahabat baiknya, seketika membuat Seno mengurungkan niatnya untuk meminum kopinya. Mata lelaki itu juga langsung menatap sahabatnya dengan tatapan tajamnya.
“Maksud, lo?” tanya Seno.
Lelaki itu ingin memastikan kembali ucapan Bisma. Dia mengira jika sahabatnya itu hanya sedang bercanda.
“Gue suka adek lo sejak kita masih SMA, dan sampe sekarang perasaan itu masih ada. Gue serius!” ucap Bisma dengan tatapan yang sudah terlihat serius.
Lelaki tampan bertubuh atletis itu memang tidak pernah main-main terhadap ucapannya. Perasaannya terhadap Anya juga bukan sekedar perasaan sesaat dan bukan juga sekedar perasaan kagum saja. Perasaan yang dia rasakan adalah sebuah rasa tertarik seorang pria terhadap seorang wanita.
Melihat sorot mata serius dari lawan bicaranya, seketika membuat Seno pun tercengang. Meskipun mereka bersahabat baik, dia tidak pernah tahu jika sahabatnya menyukai adik perempuannya.
“Lo jangan main-main, buang perasaan lo itu! Dia sudah punya suami,” balas Seno tidak suka.
Tentu saja CEO yang terkenal dingin dan arogan itu tidak suka mendengar ungkapan perasaan Bisma. Dia tidak ingin perasaan itu nantinya bisa mengusik rumah tangga adik kesayangannya. Menurutnya, tidak seharusnya Bisma memiliki perasaan itu terhadap wanita yang telah bersuami.
“Gue nggak pernah main-main dan lo tau itu. Rasa gue biar jadi urusan gue dan lo nggak perlu khawatir. Gue juga tahu dia sudah punya suami, dan gue juga paling anti sama istri orang,” ucap Bisma bernada tegas.
Dia tahu jika sahabatnya tidak suka dengan ucapannya, tapi dia juga harus bisa mengungkapkan perasaannya itu, meskipun terlambat. Paling tidak Seno sudah tahu akan perasaannya, jadi dia tidak perlu lagi menutupinya.
“Paling tidak gue sudah ngerasa lega karena lo sudah tahu perasaan gue buat adek, lo!”