Membantu Vani

1351 Kata
Keseharian Anya masih terlihat sibuk. Bahkan, wanita itu seakan tidak memiliki waktu hanya sekedar untuk makan saing. Seperti halnya hari ini, dia terlihat sudah berada di ruangan atasannya yang sekaligus kakak laki-lakinya. “Ini rencana anggaran dan program kerja untuk seminggu ke depan, Pak,” ucap Anya sambil menyodorkan sebuah map pada CEO muda tersebut. Wanita itu memang selalu membuat rencana bulanan dan mingguan berharap untuk mempermudah kontrolnya. Oleh karena itu, akhrinya Seno juga meminta pada semua kepala divisi untuk membuat laporan seperti punya adik perempuannya. “Kamu sudah makan siang?” tanya Seno. Pria itu bertanya pada adik perempuannya sambil membubuhkan tanda tangannya. Sebagai seorang kakak, dirinya harus bisa memastikan kesehatan sang adik. “Nanti sekalian di luar aja, Pak,” jawab Anya. Memang setelah menghadap atasannya, dia akan langsung berangkat ke tempat seminar. Atasannya juga telah memberikannya ijin untuk mengembangkan karirnya di dunia seminar. Meskipun begitu, wanita itu tidak mau seenaknya. Dia tetap bersikap profesional. Dia akan menuntaskan kewajibannya di perusahaan sebelum pergi. Seno merasa bangga dengan adik perempuannya. Meskipun wanita itu tumbuh dengan penuh kasih sayang, tapi tidak membuat wanita itu menjadi gadis manja dan egois. Bahkan, sekarang sikap adiknya bisa menjadi contoh untuk karyawan yang lainnya. “Ada seminar lagi?” tanya Seno sambil mengembalikan map yang telah dia tanda tangani pada Anya. “Iya, Pak,” jawab Anya singkat. CEO muda yang terkenal dingin dan arogan itu pun langsung menatap wajah adik perempuannya. Pria itu tahu jika akhir-akhir ini adiknya sangat sibuk. Sebagai seorang kakak, tentu dirinya mengkhawatirkan kesehatan sang adik. “Jangan terlalu memaksakan diri, jaga kesehatan kamu. Kami semua nggak pingin kamu jatuh sakit karena kelelahan,” ucap Seno mengingatkan. Mendengar nasehat dari kakak laki-lakinya seketika Anya pun menyunggingkan senyumannya. Dia tahu jika kakaknya tidak akan membiarkannya mengabaikan kesehatannya. “Baik, Pak. Kalau tidak ada lagi saya permisi,” ucap Anya kemudian. Jika waktunya tidak mepet, mungkin wanita akan berlama-lama berada di ruangan kakaknya. Bahkan, jika perlu dia akan makan siang bersama dengan Seno. Setelah itu Anya tampak keluar dari ruangan sang atasan setelah melihat CEO-nya menganggukkan kepala sebagai jawaban. Wanita itu berjalan dengan agak terburu-buru menuju ke ruangannya kembali. Di ruangannya tampak asistennya sedang merapikan mejanya. Nolla berniat membantu atasannya untuk membereskan barang-barang atasannya. Tak memerlukan waktu lama akhirnya semuanya telah siap. Meja atasannya juga telah rapi kembali. Barang-barang yang hendak mereka bawa pun juga sudah disiapkan semuanya oleh Nolla. “Kita berangkat sekarang, Bu?” tanya Nolla. “Iya …,” jawab Anya setelah meletakkan berkas yang dia bawa di lemari penyimpanan khusus berkas. Wanita cantik itu juga tak lupa mengunci lemari yang terbuat dari besi tersebut. Setelah itu kedua wanita berparas cantik itu meninggalkan kantor untuk menuju tempat acara. *** Di sebuah resto tampak seorang pria bermata tajam setajam mata elang duduk dengan angkuhnya. Di dekatnya duduk pria tampan berkacamata. Di hadapan mereka tampak duduk seorang wanita cantik dan seorang pria paruh baya. Sesuai dengan janjinya, Tama ingin membantu proses perceraian mantan kekasihnya agar bisa cepat selesai. Maka dari itu, pria itu pun menyewa jasa pengacara terkenal yang selalu sukses menangani kasus perceraian. “Kenalkan saya Indra, Pengacara yang di minta Tuan Tama untuk membantu perceraian Bu Vani,” ucap laki-laki yang diketahui bernama Indra. “Saya Vani. Saya hanya ingin proses ini cepat selesai, Pak Indra. Jujur aja, saya sudah lelah karena suami saya selalu mengulur dengan berbagai alasan,” balas Vani. Kemudian pengacara tersebut meminta agar Vani menceritakan secara detail semua permasalahannya agar pria itu bisa mengambil langkah untuk mengadapi suami dari kliennya ini. “Bu Vani tenang saja, kasus yang seperti ibu hadapi ini nanti pasti akan menang dengan mudah. Bukti kekerasan dan perselingkuhan yang suami Ibu lakukan juga sudah lebih dari cukup dan itu akan membuat suami Ibu tidak bisa mengelak. Ibu juga tidak perlu datang ke pengadilan karena cukup dengan surat kuasa ini semuanya bisa diserahkan pada saya,” ucap Indra dengan panjang lebar. Mendengar ucapan dari lelaki yang ada di hadapannya seketika membuat Tama menyunggingkan senyum tipisnya. Bahkan, sangking tipisnya tidak ada yang menyadari senyuman tersebut. Tama memang sengaja meminta bantuan Indra karena pria paruh baya itu sudah sangat berpengalaman menangani kasus seperti ini. Bahkan, pengacara yang terkenal dengan bayaran mahal itu juga menjadi langganan para selebritis. Setelah pembicaraan inti permasalahan selesai, mereka berempat makan siang bersama. Setelah selesai dengan urusannya mereka pun kembali melanjutkan aktifitasnya masing-masing. Vani memang sengaja memilih tempat makan yang dekat dengan rumah sakit tempat dia bekerja karena agar tidak memakan waktu lama dalam perjalanan. Selama dalam perjalanan kembali ke rumah sakit, wanita itu tampak terlihat senang. “Sebentar lagi semuanya akan selesai, dan tidak akan ada lagi yang menjadi penghalangku,” ucapnya pada dirinya sendiri. Setelah mengatakan itu, ia pun lantas bernyanyi mengikuti lagu yang dia putar di mobilnya. Kali ini hatinya benar-benar dalam kondisi sangat baik. Berbeda dengan Tama, pria tampan itu tampak melamun sambil memandang ke luar jendela. Sejak tadi pagi, Hendra melihat atasan yang sekaligus sahabat baiknya itu sering diam seakan sedang memikirkan sesuatu. Seperti kali ini, pria tampan berkacamata itu melirik bosnya dari kaca spion yang ada di atasnya. Lagi-lagi, bosnya terlihat melamun. Sebagai seorang bawahan, tentu dirinya tidak mungkin berani bertanya masalah apa yang sedang mengganggu pikiran sang atasan, sedangkan sebagai seorang sahabat, dia juga tidak berani bertanya karena sudah bisa di pastikan dia tidak akan mendapatkan jawabannya, kecuali jika sahabatnya membuka mulutnya sendiri untuk bercerita padanya. “Hen … kalau perempuan berubah jadi cuek itu kenapa, ya?” tanya Tama dengan tiba-tiba. Hendra yang mendengar pertannyaan dari sahabat sekaligus atasannya tersebut sempat menyunggingkan senyumannya. Detik kemudian, pria berkacamata itu melirik kembali atasannya melalui kaca spion yang ada di atasnya. “Memangnya kesalahan apa yang Bos lakukan?” tanya Hendra balik. Dia tidak bisa menyimpulkan sesuatu jika belum mengetahui akar permasalahannya. Kali ini dia bisa menebak jika telah terjadi sesuatu di dalam rumah tangga atasannya. Tama yang mendengar pertanyaan dari asistennya seketika menatap Hendra dari kaca spion yang ada di atas pria berkacamata tersebut. Kali tatapan keduanya tampak saling beradu. Kemudian Tama berpikir sejenak untuk mencari kesalahan yang sudah dia lakukan, tapi tetap kepalanya tidak menemukannya. “Saya merasa tidak ada melakukan kesalahan apa pun,” ucap Tama sambil menghela napas panjangnya. Memang dia akui, meskipun istrinya cuek padanya, wanita cantik itu masih menjalankan tugasnya sebagai seorang istri dengan sangat baik. Namun, dia yang sudah terbiasa mendengar celotehan istrinya, akhir-akhir ini dia seakan sedang berhadapan dengan sosok lain. “Biasanya seorang wanita akan diam jika harga dirinya sudah terluka tanpa kita sadari. Bahkan, kita dituntut untuk jadi cenayang, kita harus tahu apa yang menyebabkan dia marah. Intinya kita harus peka terhadap pasangan!” ucap Hendra dengan panjang lebar. Tama pun tampak sedang meresapi apa yang diucapkan oleh asisten yang sekaligus sahabatnya tersebut. Selama dirinya menjadi suami Anya, dia merasa selalu peka. Deg …! Tiba-tiba saja pria itu teringat kejadian pada malam itu. Di mana dia menepis kasar tangan sang istri ketika wanita itu ingin menempelkan telapak tangannya ke dahinya. “Apa mungkin gara-gara itu?” tanyanya dalam hati. Hatinya tiba-tiba merasa tidak enak. Jantungnya juga berdetak tak karuan. Ada rasa penyesalan yang mendadak keluar dari dalam. Seketika Tama merindukan istri cantiknya. Lelaki itu baru menyadari jika akhir-akhir ini hubungannya dengan wanita yang berstatus sebagai istri sahnya itu sudah terasa jauh. Kemudian Tama segera mengambil ponsel dari saku kemejanya. Pria itu tampak sedang mencari kontak seseorang yang ingin dia hubungi. Namun, hanya ada nada tunggu yang dia dengar. Sekali lagi dia mencoba menghubungi kontak itu lagi, tapi lagi-lagi hanya terdengar nada tunggu. Pria itu pun mendengus sambil menatap layar ponselnya. Hendra yang mendengar atasannya mendengus seketika melihatnya kembali melalui kaca spion yang ada di atasnya. Raut wajah bosnya tampak sedang menahan kesal. Pria berkacamata itu tahu siapa yang bisa membuat mood atasannya bisa berubah dengan cepat. Ya … hanya ada satu orang yang bisa menjungkirbalikkan hati atasan sekaligus sahabatnya itu. Siapa lagi kalau bukan istri cantiknya. Melihat itu Hendra pun langsung menyunggingkan sudut bibirnya. Memang dia akui jika istri sahabatnya itu bukan hanya baik dan ramah, tapi wanita itu juga sangat cantik, maka tak heran jika banyak CEO muda yang sangat memujanya. “Rasain tuh!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN