Anya merasa tawaran untuk seminar semakin hari semakin bertambah. Bahkan, ada juga yang dia tolak karena benturan dengan jadwal yang lainnya ataupun jadwal pekerjaannya.
Selama ini wanita itu selalu memilih acara seminar tertutup. Dia tidak ingin jati dirinya diketahui oleh publik karena untuk menjaga kenyamanan keluarganya.
Sebagai publik figur, dia tahu jika kehidupan pribadinya pasti akan menjadi buruan para awak media. Bahkan, kehidupan keluarganya pasti akan ikut terseret. Oleh sebab itu, dia memilih acara seminar tertutup dan tidak ditayangkan di media apa pun. Meskipun begitu tawaran agar dirinya menjadi pembicara masih terus berdatangan.
Wanita itu selalu menjadi pembicara yang selalu membawakan materi motivasi. Kesuksesannya di usia muda telah menjadikan namanya menjadi incaran para penyelenggara acara.
Di dalam keluarga Warman, hanya kakak laki-lakinya yang mengetahui kesibukannya di luar kantor. Kedua orang tuanya sendiri, bahkan tidak mengetahuinya.
Suaminya selama ini hanya tahu jika istrinya sering mengikuti acara seminar. Bahkan, pria itu tidak mengetahui jika istrinya datang ke acara seminar bukan sebagai peserta, melainkan sebagai pembicara yang membawakan materi.
Menurutnya, sang istri sering mengikuti seminar karena ingin mengembangkan karirnya di perusahaan. Selama itu kegiatan positif, pasti sebagai seorang suami, dia akan selalu mendukung sepenuhnya.
Hari ini Anya pulang ke rumah ketika langit telah berubah gelap. Hari ini ada dua acara seminar yang dia hadiri. Meskipun terasa melelahkan, dia tetap merasa senang. Semakin hari peserta seminar semakin bertambah. Bahkan, tampak dari kaum adam juga terlihat menghadirinya, dan itu membuat wanita cantik tersebut semakin bersemangat.
Ketika Anya memasuki kamar, suaminya tampak sudah duduk bersandar di atas ranjang. Pria itu sedang membaca beberapa dokumen. Setelah menutup pintu kamar kembali, dia pun langsung berjalan mendekati Tama untuk mencium punggung tangan pria itu.
“Tumben baru pulang?” tanya suaminya sambil terus menatap istrinya yang terlihat masih berjalan mondar-mandir karena bersiap ingin langsung membersihkan diri.
“Tadi pagi kan aku sudah bilang kalau pulang malam, karena ada dua seminar di tempat yang berbeda,” jawab Anya dengan santainya.
Wanita itu tampak fokus membersihkan makeup-nya, hingga tidak menolehkan kepalanya. Di dalam benak perempuan itu juga keheranan karena suaminya sudah pulang lebih dulu sebelum dirinya tiba di rumah.
Meskipun di dalam hati bertanya-tanya, Anya tidak berani untuk bertanya secara langsung pada sang suami. Dia tidak ingin sakit hati lagi dengan penolakan suaminya kala itu. Dia harus bisa membentengi hatinya.
Pengalaman pahit dalam kegagalan rumah tangganya dulu telah menjadi hal yang mengerikan buat dirinya. Oleh karena itu, dia lebih memilih untuk tidak bertanya. Di samping itu, dia juga tidak ingin membuat suaminya merasa tidak nyaman dengan pertanyaannya dan nanti malah membuat mereka berakhir dengan bersitegang seperti pada waktu itu.
Pernikahannya masih seumur jagung, jadi Anya benar-benar menghindari pemicu pertengkaran di dalam rumah tangganya, meskipun sekecil apa pun.
Tama memang masih ingat ketika istrinya meminta ijin padanya tadi pagi. Sebenarnya pertanyaannya merupakan sebuah bentuk basa-basi untuk menciptakan obrolan. Semenjak kejadian tempo hari telah membuat istrinya berubah. Jika dia tidak bertanya, maka istrinya tidak akan bersuara kecuali wanita itu meminta ijin padanya.
Mata elang Tama menatap punggung istrinya yang terlihat masuk ke dalam kamar mandi. Setelah pintu tertutup, ia pun langsung mendengus. Dia akui pada saat itu dia sedang lepas kontrol dan tanpa sengaja telah melukai hati sang istri. Namun, sekarang dia ingin memperbaikinya.
Hampir selama satu jam, Anya belum juga keluar dari kamar mandi. Ada rasa khawatir yang timbul dari dalam hati Tama. Kemudian pria itu beranjak dari ranjang dan berjalan mendekati kamar mandi.
“Sayang … kamu masih lama di dalam?” tanya Tama dari balik pintu.
Untuk beberapa saat lelaki itu tidak mendapat jawaban dari dalam, tapi terdengar suara gemericik air. Kali ini pria itu langsung mengetuk pintu kamar mandi karena hatinya semakin cemas.
Tok … tok … tok!
“Sayang … buka pintunya bentar dong!” pinta Tama sambil mengetuk pintu.
Pria itu seketika menyunggingkan senyumannya ketika mengingat kejadian yang mirip di ruang kerja restonya dulu. Di mana Anya juga sedang menggunakan kamar mandi yang ada di dalam ruang kerjanya cukup lama.
Sama seperti sekarang, wanita itu juga lama berada di dalam. Kala itu dia sempat berpikir yang tidak-tidak karena dia mengira jika perempuan yang sekarang telah menjadi istrinya itu bertindak nekat karena habis mengalami kejadian mengerikan.
Anya yang mendengar pintu yang diketuk pun bergegas menyudahi urusannya di dalam kamar mandi karena dia mengira jika suaminya akan memakai kamar mandi.
Pintu kamar mandi pun terbuka dan betapa terkejutnya ketika Anya melihat suaminya sudah berdiri sambil bersandar pada dinding. Bahkan, pria itu juga terlihat sedang senyum-senyum sendiri.
“Mas, kok senyum-senyum sendiri?” tanya Anya dengan raut wajah keheranan.
Tama pun seketika berjengkit kaget ketika mendengar pertanyaan dari istrinya. Apalagi ketika melihat perempuan cantik itu sudah berdiri tepat di depannya sambil mengenakan bathrobe berwarna putih.
“Kamu lama bener di kamar mandi? Kamu ingat waktu Mas ngira kamu mau bunuh diri dulu?” tanya Tama sambil mengekor istrinya yang berjalan masuk ke ruang wardrobe.
“Aku sudah selesai kalau Mas mau pake kamar mandinya, silahkan!” ucap Anya tanpa menghentikan langkahnya.
Namun, sepertinya lelaki yang mengekor di belakangnya itu tidak sedang ingin menggunakan kamar mandi karena terlihat jika pria itu hanya ingin berbincang dengannya saja.
“Mas, nggak pingin ke kamar mandi. Mas hanya khawatir karena kamu lama bener mandinya,” jawab Tama.
Mendengar ucapan dari suaminya membuat Anya seketika mengerutkan dahinya. Dia merasa heran dengan suaminya yang tiba-tiba kembali banyak bicara. Bahkan, bukan hanya itu saja, laki-laki itu juga bersikap seperti anak-anak yang sedang merengek meminta sesuatu pada ibunya.
“Mas … dari dulu pemikiran Mas memang terlalu jauh. Aku nggak pernah kepikiran untuk bunuh diri. Apa Mas memang selalu berpikiran negatif tentang aku? Asal Mas tau, bahkan di saat dulu nyawaku akan melayang aja, aku berusaha kabur dengan sekuat tenaga agar bisa selamat,” tutur Anya disertai dengan tatapan sendunya.
Tubuh yang kelelahan menyebabkan perasaan wanita itu menjadi lebih sensitif. Lagi-lagi suaminya telah berhasil menguji kesabarannya. Entah kenapa pria itu selalu memiliki pemikiran buruk terhadap dirinya.
Mendengar ucapan istri cantiknya, membuat Tama seketika tercengang. Perkataan yang keluar dari mulut istrinya terasa ada yang janggal. Lelaki itu berdiri tepat di pintu ruang wardrobe sambil terus menatap gerak-gerik istrinya.
Hingga perempuan itu keluar sambil membawa pakaian ganti, Tama tetap berdiri di tempatnya. Pria itu tidak menyadari jika istrinya telah pergi dari ruang itu karena kepalanya masih sibuk mencerna setiap kalimat yang masuk ke dalam pendengarannya.
Apalagi ketika melihat sorot mata sendu dari istrinya, membuat hati pria itu terasa campur aduk. Sebenarnya ada rasa tidak rela di dalam hatinya dengan perubahan sikap istrinya. Namun, dia tidak bisa berbuat apa-apa karena semuanya berawal dari sikap dinginnya.
Anya berjalan masuk ke dalam kamar mandi kembali untuk berganti pakaian. Selama hidup berumah tangga dengan Tama, dia tidak pernah berganti pakaian di hadapan sang suami. Dia selalu merasa malu jika harus melakukan itu.
Tama seakan baru tersadar dari lamunannya ketika mendengar suara pintu kamar mandi yang ditutup. Detik kemudian dia membalikkan tubuhnya dan menatap pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Tama tetap menunggu istrinya karena ada sesuatu yang harus mereka bahas dengan serius.
Beberapa saat kemudian, pintu pun terbuka dan Anya keluar dengan sudah berganti pakaian. Wanita itu terus berjalan melewati suaminya begitu saja.
“Kita harus bicara!” ucap Tama sambil berjalan mengikuti dari belakang.
“Besok aja, Mas. Sekarang aku beneran capek banget,” jawab Anya sambi terus berjalan mendekati ranjang yang selama ini ia tempati.
Melihat istrinya seakan menghindar, seketika membuat Tama merasa kesal karena merasa diabaikan oleh istrinya sendiri.
“Bintari Lavanya!” panggil Tama dengan suara yang menggelegar.
Mendengar panggilan yang tak biasa dari sang suami, membuat langkah Anya seketika terhenti. Detik kemudian wanita itu tersenyum miris pada dirinya sendiri sambil menundukkan kepalanya sejenak.
Setelah menghembuskan napas panjangnya, ia pun berbalik menghadap laki-laki yang wajahnya sudah menahan emosi sambil menatapnya tajam. Bahkan, rahang tegas pria itu juga terlihat sudah mengeras.
Kemudian Anya tersenyum kembali, tapi matanya sudah berkaca-kaca. Bukan karena dia merasa takut pada laki-laki itu, tapi dia merasa seakan kembali terlempar ke masa lalu ketika masih menjadi istri seorang Dipta Hanggara. Di mana bentakan dan cacian ibarat makanan sehari-hari buat dirinya.
Tubuh wanita itu langsung terasa sedingin es. Bahkan, tangannya juga gemetaran. Rasa trauma terhadap kekerasan dan bentakan masih belum sepenuhnya menghilang. Namun, dengan sekuat tenaga dia menahannya karena tidak ingin Tama melihatnya dalam kondisi yang menyedihkan seperti ini.