Orangtuanya meninggalkan Halwa begitu saja di dalam kamar. Halwa menundukkan kepala dan melihat jemarinya yang bertaut dengan setitik airmata yang jatuh diiringi buliran lainnya. Kenapa? Kenapa semua orang seolah mendesaknya. Kenapa dia disuruh untuk memilih tapi merasa tak punya pilihan? Halwa masih berusaha menenangkan pikirannya dan memilah. Haruskah dia memilh salah satu diantara keduanya, atau haruskah dia tidak memilih salah satu diantaranya? Tapi membayangkan akan hidup sendirian pun terasa menakutkan. Sebuah ketukan di pintu membuat Halwa mengusap airmatanya dengan cepat. ia mendongak untuk melihat siapa orang yang datang dan terkejut kala melihat Mirza berdiri di ambang pintunya. "Boleh masuk?" tanya pria itu pada Halwa. Halwa hanya memandangnya dan tak menjawab apa-apa. Tan