“Kau ingat namaku, Rheana?” Tama, pria itu sama sekali tak menyangka.
“Kenapa kaget? Kau pikir, aku akan lupa? Tidak. Kau b******n,” kata Rheana kasar, suaranya pecah.
Pria itu tertawa kecil, getir. Tapi ada kilatan lega di sorot matanya itu.
“Rhe, aku sempat berpikir, kau mungkin menghapusku dari hidupmu. Kau punya sejuta alasan untuk melupakan aku, bahkan membenci aku,” kata Tama, suaranya tercekat.
Rheana diam, sorot matanya gemetar.
“Seharusnya, iya. Aku membencimu, tapi sialnya, bahkan di saat seperti ini pun, aku masih bisa mengenalimu. Aku seperti berhalusinasi,” katanya sarkas.
Alkohol yang mengalir dalam darahnya membuat keberanian Rheana melonjak, menghilangkan semua filter yang bisa menjaga dirinya untuk tetep kuat, bahkan mungkin mengelak.
Tama sendiri menatapnya lekat. Rheana memejamkan mata, tapi dia tidak tidur. Aroma maskulin yang dia kenali dari pria di sampingnya itu mengundang sesuatu dalam dirinya yang telah lama tersimpan.
Tama mengangkat tangannya, kembali mengusap lembut rambut Rheana lalu berkata, “Kau masih secantik dulu, Rhe. Padahal kita tidak bertemu bertahun-tahun. Kau —”
“Hentikan!” Rheana berseru, dadanya berdebar tak karuan. Dia menepis tangan Tama. “Jangan berkata seolah kau punya hak, sialan. Kau menghilang tanpa kata, tanpa jejak, pergi bertahun-tahun. Tidak tahukah kau —” Suara Rheana yang pecah itu terbungkam oleh ciuman Tama yang tiba-tiba.
Tama melepaskan ciumannya tanpa menjauh dari wajahnya Rheana. “Aku tidak pernah berniat meninggalkanmu, Rhe. Tapi aku terpaksa melakukan itu.”
Air mata menggenang di sudut mata Rheana. Dia ingin sekali berbalik, menampar, bahkan menendang pria itu. Tapi ada sesuatu di dalam dirinya justru melawan semua itu, menginginkan sesuatu yang sebaliknya. Bayangan penghianatan sang kekasih, cumbuan mereka yang tak Rheana percayai, berputar di dalam pikirannya, bersama alkohol yang mengenyahkan logikanya.
“Sial!” Rheana mendesis ketika bayangan cumbuan temannya terlihat begitu jelas di benaknya. Tiba-tiba saja suara desah itu menggema dalam telinganya.
“Kenapa, Rhe?” Tama tiba-tiba cemas, dia mengangkat sedikit tubuhnya, bertumpu pada sikut. Rheana masih berbaring, wajahnya mengernyit. Tidak. Dia tidak merasa sakit, tapi sesuatu. “Rhe?”
Alih-alih menjawab, Rheana tiba-tiba menangkup wajahnya Tama dengan kedua tangan, tanpa aba-aba dia menempelkan bibirnya dengan bibir Tama lagi. Kecupan lembut, sedikit ragu saat dia menggerakkan bibirnya seolah mencari nyaman.
Ciuman itu kasar di awal, seolah Rheana ingin mengambil semua emosi yang tersembunyi, didesak oleh sesuatu yang seakan meledak di dalam dirinya. Tama sempat mendorong, menolak, tapi tangannya meremas seprai di belakang tubuh Rheana erat. Amarah dan rindu bercampur menjadi satu, membuat tubuh Tama menolak untuk pergi.
Perlahan, ciuman itu melunak. Dari kasar penuh amarah menjadi lembut, penuh kehati-hatian. Tama membalas, mengimbangi ciuman yang Rheana mulai.
“Ta … ,” gumam Rhea lirih di sela napas yang terengah.
“Kenapa?” Tama menyahut tanpa melepaskan ciumannya yang bergerak dari bibir ke leher Rheana. Gadis itu melenguh beberapa kali, menggeliat di bawah kungkungan tangan besar Tama. “Aku di sini, Rhe,” katanya, suaranya serak, penuh kerinduan.
Rhea memeluk Tama erat, terjebak dalam pusaran perasaan yang tak bisa dijelaskan. Alkohol seakan kian mendorongnya untuk mencoba melakukan sesuatu yang selama ini dia tampik. Di usianya yang memasuki kepala tiga, mungkin itu hal yang wajar bagi warga negaranya, tidak ada aturan, tidak ada ikatan. Meski begitu, Rhea menahan diri, memilih sibuk, bahkan saat kekasihnya meminta pun, dia tidak terpicu. Tapi kali ini, terasa begitu berbeda. Ada suatu tarikan yang membuatnya tak bisa menolak.
“Ah!”
Sial! Rhea mendesis dalam setengah sadar. Dia tahu seseorang tengah mencumbunya, tapi dia berpikir yang melakukannya adalah sosok yang hanya bisa dia bayangkan.
“Tama!” Rhea melenguh ketika Tama mengusap punggungnya lembut.
“Iya?” Pria itu berhenti sesaat, mendongak.
Rhea tidak mengatakan apa-apa, tapi dia membalik posisi menjadi di atas. Jelas saja itu mengejutkan si pria.
“Kau terlalu lama sialan,” desis Rhea dengan terburu melepaskan kancing kemeja yang dipakai Tama.
“Hei, hei, Rhe? Ah!” Tama tak memprediksi gerakan cepat Rheana yang menggigit bahunya.
Dengan gerakan terburu, Rheana melepaskan kemeja Tama, membuangnya sembarangan. Bahkan, melepas bajunya sendiri, meninggalkan bra hitam yang pas mewadahi bukit kembarnya.
“Hei, Rhe. Berhenti!” Tama menyentak, memegangi kedua tangan Rheana. Napas gadis itu terengah, wajahnya merah, bibirnya basah.
“Apa?” Dalam ketidaksabaran itu Rheana mendelik, tatapannya berkabut. Dorongan di dalam dirinya membuat Rheana enggan berhenti.
“Apa yang kau lakukan? Kau sadar apa yang kau lakukan itu adalah ….”
“Aku tidak peduli. Aku hanya menginginkan itu.” Rheana menjawab tegas, desakan dalam dirinya seakan tidak sabar untuk disalurkan. Perutnya terasa begitu melilit, dia menginginkan sebuah pelampiasan atas semua rasa sakit yang diberikan kekasihnya.
“Tapi Rhe … .”
“Jika kau tak mau, aku akan mencari yang lain saja,” katanya, berhenti bergerak, bersiap untuk turun dari atas tubuh Tama. Tapi pria itu menahannya.
“Apa maksudmu, Rhe?”
“Ya, jika kau tidak mau, aku akan mencari partner lain.”
“Untuk apa?”
“Untuk celup,” jawabnya yakin. “Partner celup. Sudah. Lepaskan aku, Ta. Aku —”
Dengan gerakan cepat sambil menahan amarah, Tama membalik posisi dengan kasar, memerangkap tubuh Rheana di bawahnya lagi. Gadis itu berontak, tapi Tama menahan kedua tangannya.
“Tidak. Aku tidak akan mengizinkan siapapun celup padamu, Rheana!” Wajahnya merah, antara marah dan berkabut hasrat. Bagaimana mungkin Tama membiarkan gadis itu bermain dengan pria asing? Tidak akan dia biarkan.
Tanpa aba-aba, tanpa kelembutan, Tama kembali menciumi Rheana dengan kasar, terburu. Dia bahkan tidak peduli saat Rheana mengigit bibirnya hingga berdarah, malah melanjutkan ciumannya turun ke leher, bahu, dan berakhir di gundukan kembar milik Rheana yang sudah tak lagi berpengaman. Tanpa menunggu lama Tama segera memainkannya, memelintir puncaknya, membuat desahan lolos dari mulut Rheana.
Udara di dalam ruangan itu terasa begitu panas, membuat peluh membajuri keduanya. Desah yang bersahutan menjadi irama bersama detak jantung. Mereka sama-sama larut dalam permainan hasrat. Tama terus bergerak, menanggalkan semua kain yang menempel di tubuh keduanya. Rheana bahkan bergerak gelisah, bagian intinya tak sabar untuk ditembus, tapi Tama masih bermain-main.
“Rheana, kau yakin?” Tama yang terengah dengan pandangan berkabut itu berhenti sesaat, mendongak pada gadis itu untuk memastikan.
“Iyah. Lakukanlahhh.” Rheana menyahut sambil mendesah.
“Jangan mengelak malam ini. Kau harus ingat aku besok, dan seterusnya,” kata Tama.
“Iya.”
“Aku akan melakukannya pelan-pelan. Jika merasa sakit, katakan, aku akan berhenti, hm?”
Rheana hanya mengangguk, dalam pejaman mata, dia mengigit bibir bawahnya.
“Aku akan bertanggung jawab atas apa yang aku lakukan ini, Rhe. Jadi, kau milikku sekarang.” Tepat setelah mengatakan itu, Tama melesakkan miliknya pada milik Rheana membuat gadis itu menjerit tertahan. Dia mencengkram kulit punggung Tama.
Saat Tama melihat air mata di pelupuk gadis itu, dia berniat berhenti tapi Rheana tidak mengizinkannya dan memintanya untuk terus bergerak tanpa mempedulikan rasa sakitnya yang perlahan berubah menjadi kenikmatan. Tama tak menyangka kalau dia membuka segel milik Rheana, sosok gadis yang dia kenal beberapa tahun lalu, bahkan tak dipungkiri dia memiliki perasaan untuk gadis itu. Tapi waktu membuat mereka berpisah karena suatu alasan, lalu dipertemukan lagi, dan siapa menyangka dalam pertemuan itu mereka justru saling menyatu dalam buaia hasrat yang tak mungkin berhenti di tengah jalan.
Ketika pelepasan mencapai puncaknya, lenguhan keduanya menggema di ruangan itu, bersahutan, saling memanggil nama dalam kungkungan kenikmatan. Kedua terengah, terbaring di ranjang karena lelah.
“Terima kasih,” ucap Tama pelan, sambil mendaratkan kecupan singkat di pelipis Rheana.
Tidak ada jawaban, gadis itu sendiri bergerak memeluk Tama yang menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya.
“Tidurlah.”
Entah apa yang mungkin akan terjadi esok hari begitu Rheana sadar dari tidur lelapnya. Untuk pertama kalinya, dia melakukan sesuatu dalam pengaruh alkohol. Akankah dia marah pada sosok yang mengambil miliknya atau justru sebaliknya?
“Sampai jumpa.” Kecupan singkat Tama sematkan di dahi sebelum dia pergi dari sana, meninggalkan Rheana sendiri dalam lelapnya mimpi.
Selembar note kecil dengan tulisan rapi tertempel manis di nakas samping tempat tidur, berharap gadis itu menemukannya esok hari.