“Kana, lakukan saja. Daripada ditahan-tahan dan efeknya malah fatal. Yang ada kamu pusing dan kamu juga enggak bisa tidur sampai besok,” ucap Lita lembut dan masih membingkai wajah Arkana. Kedua tangannya mengusap lembut setiap bulir keringat yang memang sudah membuat wajah tampan sang suami basah. Dalam diamnya, Arkana yang sebelumnya mengelap mata kanan Lita, menjadi berpikir, Lita tahu apa yang sedang ia rasakan. Atau memang, sudah menjadi kebiasaan Arkana karena tadi saja, apa yang Lita katakan seolah memang sudah menjadi kebiasaan Arkana? “Lutut kanan kamu masih sakit, ... biar aku yang di atas,” lanjut Lita masih dengan suara yang benar-benar lembut, hingga Arkana makin panas dingin. Ya ampun di atas? Si Lita paham banget apa yang harus dia lakukan! Duh, makin panas dingin enggak