Prolog
"Jangan main-main dengan sentuhan."
Oh ... Aylin menelan ludahnya gugup. Jantung berdebar-debar mengerikan. Mendengar ucapan lelaki tinggi besar di depannya, di mana rahang kukuh itu mengetat—barusan Aylin usap-usap genit.
Sekarang tangan Aylin dicekal, menempel dengan dinding. Tepatnya, pada area pergelangan dan lengan Aylin diluruskan ke atas—dua-duanya. Bisa dibayangkan?
Aylin terpenjara. Tubuhnya diimpit, yang sudah pasti tersembunyi. Sosok itu sampai menunduk hanya untuk bisa menghunus mata Aylin dengan tatapan tajamnya.
Tentu Aylin mendongak membalas sorot mata itu.
"Tapi sentuhan aku serius, Bang. Aku nggak pernah main-main, termasuk soal perasaan."
Sama rendah nada suaranya. Aylin mengerjap sayu, tampak sensual—asal kalian tahu.
"Kamu mabuk."
Hm?
Aylin geleng-geleng, lalu senyum. Dan posisinya masih diimpit dengan dua tangan lurus-lurus mengacung ke atas, nempel dinding. Bukan berarti posisi ini tak bisa membuat Aylin bergerak, nyatanya dia masih kuasa mencondong maju—berjinjit, menyentuhkan bibir ke bibir pria itu.
Tapi tidak kena. Detik di mana Aylin condong adalah saat di mana pria di depannya menoleh ke samping, hingga bibir Aylin cuma nemplok di pipinya.
Hening.
Kalian tahu siapa sosok ini? Laki-laki yang mematung dapat kecup bibir dari Aylin.
Perkenalkan, dia Mahareno kakaknya Maharani—sobat Aylin sejak duduk di bangku SMP. Setahu Aylin begitu. Bang Reno disebutnya.
Untuk sepersekian waktu, kecup bibir tadi Aylin ulangi kala Bang Reno kembali menatapnya. Dan ... ya, sekarang berhasil.
Bertemu bibir ke bibir.
Ternyata seperti ini rasanya, ya? Yang pernah Aylin lihat dengan mata kepala sendiri tentang perjumpaan bibir antara lawan jenis.
Waktu itu di mata Aylin, sosok yang berciuman terlihat sangat menikmati. Terlihat sangat—
Oh, ya ampun!
Belakang kepala Aylin sampai nyaris terbentur dinding jika tak ada telapak tangan yang menyangga, telapak tangan besar dan jari-jarinya panjang bisa Aylin rasakan. Di mana pria di depannya membalas kecup bibir Aylin.
No, no!
Bukan kecup. Ini, sih, bibir Aylin dimakan. Rasanya seperti itu. Aylin sampai terkejut sepersekian waktu.
Sementara, cekalan di pergelangan tangan Aylin mulai mengendur dan jemari itu menuruni lengannya dengan gerak agak sensual. Di mana bibir Aylin masih terus dicumbu, membuat suara decap tercipta.
Oh, apa ini?
Aylin refleks meremas kemeja pria di depannya setelah tangan terbebas, tetapi tengkuknya yang sekarang ditekan, lalu pinggangnya yang kini dilingkari.
Dapat Aylin rasakan otot-otot kakaknya Maharani mengencang, termasuk otot di bagian terintim. Posisi itu membuat tubuh Aylin dan Mahareno menempel.
Well ....
Mahareno.
Setahu Aylin itu namanya.
"Jangan disentuh." Diucap dengan nada tercekat, helaan napasnya juga terdengar berat. Pria berkumis tipis itu memperingati.
Kala tangan Aylin bergerilya menapaki titik paling sensitif di tubuh lelaki.
Aylin mendapati rahang pria itu mengetat, entah kenapa jadi semakin terlihat sensual dan menarik. Memancing rasa penasaran pada tiap sentuhan gila yang dirinya lakukan, kira-kira akan ada ekspresi seperti apa lagi.
Kini, setapak demi setapak langkah terpandu menuju sebuah ruangan. Saat pintu ditutup detik itulah Aylin melihat ranjang.
Di area tepi, Aylin lantas terduduk. Matanya mengerjap mencerna situasi. Terasa berat, Aylin lalu rebahan.
Di mana pria itu kini—entah bagaimana lagi kelanjutannya, Aylin rasa dia tidur pulas sekali semalam. Dan terbangun di ranjang aroma maskulin di keesokan paginya.
Wait.
Maskulin?
Lebih epic lagi, bukan cuma jejak maskulinitas yang Aylin temukan di ranjang ini, tetapi wujud asli dari seorang laki-laki. Mata Aylin sampai melotot hampir copot—oh my God!
Ba-Ba-Bang Reno!
Aylin praktis terduduk. Tapi kemudian refleks dipeganginya kepala. Kok, sakit, ya?
"Mau ke mana?"
KYAAA!
Histeris, Aylin menjerit. Teriakannya sudah seperti mau mengeluarkan arwah dari raga mendengar interupsi dari vokal berat itu, detik di mana dia sedang mencoba kabur. Namun, seolah belum cukup dar-der-dornya jantung Aylin hari itu, dari luar langsung terdengar—
"Lin!"
Seseorang memanggil.
"Aylin!"
Suara Maharani.
Oh, ya, Aylin menginap di rumah sobatnya.
"Kamu di dalem?"
Dan ... tapi kenapa Aylin tidurnya di sini? So, otak cantiknya langsung bekerja keras, padahal nyawa serasa belum terkumpul semua. Sel-sel di dalam sana bergerak cepat gotong-royong membantu Aylin mengulas memori semalam—
"PA!"
Pa?
"PAPA!"
Pa ... papa?
Kepala Aylin menoleh bak robot kurang pelumas, terpatah-patah samar. Arahnya jelas kepada pria di atas ranjang, yang kini sudah berdiri di lantai. Baru Aylin sadari bahwa pria itu bertelanjang dadaa.
"PAPA! AYLIIIN!"
Ah, tunggu, tunggu! Tunggu dulu!
I-ini kenapa jadi 'papa'?
Aylin menatap horor plus super dramatis ke arah pria yang—bukannya ini Mahareno, kakak Maharani?
"PAPA, BUKA PINTUNYA!"
Argh!
Apa ini?
Apa yang salah?
Dan—
"PAPA!"
Mungkin harusnya Aylin tidur lagi, ini masih alam bawah sadar, kelanjutan dari mimpi semalam yang agak erotis—eh, bukan agak, tetapi ... SANGAT EROTIS!
Tidak, tidak.
Tenang saja.
Mau seerotis apa pun, bahkan sampai terjadi pertautan kelamin sungguhan pun, kan, cuma mimpi. Ayolah ... santai, Kawan.
Mari naik lagi ke kasur, lalu pejamkan mata, kemudian bangun, dan yang dia lihat suasana kamar sang sobat.
Betul. Aroma maskulin, laki-laki, kamar yang berbeda, semua kejadian di pagi ini cuma bagian dari mimpi di dalam mimpi. Ada yang seperti itu, kan?
But ....
"Astagfirullah ... Papa! Aylin?!"
Kelopak mata Aylin auto terbuka ekspres. Menoleh ke arah pintu.
Ke-kenapa Maharani senyata itu? Dan kenapa Aylin masih bangun di kamar asing ini? Lalu kenapa aroma maskulinnya tidak pergi? Detik di mana pintunya dibukakan oleh pria yang masih bertelanjang dadaa, sementara Aylin ... AAARGH!
Satu hal yang patut dipertanyakan. "Kenapa ... kenapa kamu panggil abangmu papa, Ran?"
"Apa maksud kamu? Aylin! Yang bener aja kamu tidur sama papa aku!"
Nah, iya.
"Bang Reno—"
"Papa Baja!"
Sosoknya diam saja menatap lurus ke wajah Aylin.
Astaga.
Tunggu sebentar.
Baja?
Wajah Aylin memucat.
***