Jena bermimpi. Di dalam mimpinya itu ia melihat ada seseorang yang sedang mengarahkan senapan ke arahnya yang tengah berdiri. "Enggak!" Gadis itu berteriak dalam hatinya. Nyatanya saat ini ia sama sekali tak bisa mengucapkan apapun. Bibirnya seolah terkunci. Jena membelalakkan matanya lebar- lebar hingga matanya hampir ke luar ketika senapan itu benar- benar tengah diarahkan ke arahnya. "Siapa?! Siapa yang berani nembak gue?!" Jena berusaha keras melihat wajah sosok yang tengah mengarahkan senapan ke arahnya itu. Namun sama sekali tak ada yang ia lihat. Wajah pria itu samar. Tak kelihatan sama sekali. "Tembak dia!" Kemudian ketika Jena membuka matanya kembali untuk mengamati wajah pria itu, senapan itu kini benar-benar terarah padanya dan sebuah suara sangat besar muncul. DUA

