"Jena?" Karina masih mematung di tempatnya itu. Ia memandang Jena dengan keterkejutannya dan merasa sangat bingung sekarang. Apa yang harus dikatakannya kepada Jena? "Jen, lo ..." Ia terbata. Tak mampu melanjutkan lagi ucapannya itu. "Temennya Karina, silakan masuk, ibu bikinkan minuman dahulu." Ibu Karina malah mengatakan kalimat itu, membuat Karina semakin terdesak. Setelah itu ibu Karina itu bergegas masuk ke dalam rumahnya untuk mengambilkan minuman Jena. Sebenarnya, beberapa saat lalu, ketika Jena berada di teras rumah itu, ia berdoa terus di dalam hati. Ia mencoba untuk berusaha meyakini bahwa Karina tak ada di sana. Atau kalau pun benar yang tinggal di sana, itu adalah Karina yang lain, bukan Karina yang ia kenal. Jena terus berdoa agar perkataan pemuda di rumah besar tadi

