Christ menghela nafas panjang, ia masih berada di dalam mobilnya, masih berada di area parkir rumah sakit dan belum beranjak sedikit pun meski langit mulai gelap. Ia menyimak dengan sabar segala macam omelan Mesa dari seberang telepon. Sejak memutuskan untuk jatuh cinta kepada sosok ini, Christ sudah tahu dan sudah bertekad bahwa ia harus punya banyak stok sabar dan hati yang lapang jika memberanikan diri jatuh hati pada gadis cantik Puteri dari Mahendra Tanata. Karena semua sikap keras kepala Mahendra menurun dengan sempurna pada sosok Mesa. "Sudah?" tanya Christ sabar ketika Mesa sudah tidak lagi bersuara. "Kamu ini, aku ngomong panjang-lebar tadi nggak kamu simak?" tampak suara itu kembali meninggi, membuat Christ kembali memejamkan matanya. "Aku simak, Sayang. Aku dengerin semu

