“Benar itu anakmu?” Ramon terpekur, ia memijit pelipisnya dengan sedikit gusar, membuang nafas kasar dan kembali menengadahkan kepalanya, bersandar di tembok dan menatap lurus ke depan. “Entah lah, Ko. Aku sendiri juga tidak tahu apakah bocah itu adalah anakku atau bukan, yang jelas aku masih belum bisa menerima semua ini. Aku benar-benar tidak bisa berpikir sekarang, yang ada di pikiranku hanya Elsa. Aku tidak mau kehilangan dia.” Christ mengangguk, hatinya ikut pedih melihat permasalahan apa yang sang adik hadapi. Christ tahu betul, untuk sampai kemudian Elsa hamil anak dari laki-laki yang merupakan kakak dari wanita yang begit Christ cintai ini, ia perlu waktu dan kebesaran hati yang luar biasa. Christ tahu betul apa yang dulu terjadi antara Ramon dan Elsa, betapa Elsa membenci Ramo

