Kereta menuju Malang berangkat pukul 17.45, dan sejak siang, Inari sudah bisa merasakan kegelisahan menggerogoti dadanya perlahan. Padahal Bramasta masih duduk di sampingnya. Bramasta tertawa kecil saat menceritakan hal sepele tentang rapat kantornya, tentang rekan kerja yang menyebalkan, tentang jalanan yang macet tadi pagi. Inari mengangguk, tersenyum, sesekali menimpali. Inari tahu waktu mereka selalu berjalan dengan jam yang berbeda. Jam miliknya terus menghitung mundur, sementara jam Bramasta akan kembali berputar ke titik yang sama: ke kesibukan dan pekerjaannya. Waktu memang tidak pernah mau berpihak pada perempuan sepertinya. Perempuan yang keberadaannya selalu berada di catatan kaki kehidupan orang lain. Sore itu, setelah koper kecilnya ditutup rapi, Inari duduk di ujung ranj

