Tidak semua perpisahan terdengar seperti pintu dibanting. Sebagian hanya sunyi yang menetap, lalu perlahan menjadi kebiasaan. Di Bangkalan, pagi selalu datang dengan langkah pelan. Angin dari laut membawa aroma asin yang samar, menyentuh rumah kecil Inari yang berdiri tenang di antara rumah-rumah lain. Tidak istimewa. Tidak mencolok. Tapi kokoh—seperti hidup yang akhirnya ia pilih. Inari menutup pintu setelah mengantar Prastama ke PAUD. Anak itu berlari kecil, menoleh sebentar, melambaikan tangan dengan senyum lebar. Senyum yang selalu membuat Inari berhenti sejenak, memastikan dirinya benar-benar hadir di momen itu. Ia tidak lagi hidup di masa lalu atau mengantisipasi luka yang belum tentu datang. Ia hidup di sini. Sekarang. Di dapur, Jokowi sedang menyiapkan sarapan sederhana. Kemeja
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


