Tiga tahun berlalu. Waktu tidak menyembuhkan segalanya, tapi ia mengajarkan Inari cara bernapas tanpa rasa sakit yang menusuk di setiap tarikan. Luka itu tidak benar-benar hilang—ia hanya berubah bentuk, dari jerit menjadi gema yang jauh. Bangkalan menyambutnya dengan ritme yang lebih lambat, langit yang tidak tergesa-gesa, dan jarak yang cukup aman dari kenangan yang pernah menghancurkannya sampai ke akar. Di kota kecil itu, Inari belajar lagi tentang pagi. Tentang cahaya matahari yang jatuh perlahan di sela genteng rumah kontrakan, tentang suara tukang sayur yang lewat dengan teriakan khas, dan tentang aroma kopi murah yang ia seduh sambil menyiapkan bekal kecil untuk anaknya. Setiap pagi, ia berjalan menyusuri gang sempit menuju PAUD tempatnya mengajar. Bangunannya sederhana, temb

