Bramasta mulai menyadari satu hal yang paling menyiksa di dalam dirinya yaitu kehilangan tidak selalu datang dalam bentuk kepergian atau meninggalkan seseorang. Kadang, ia hadir sebagai sesuatu yang tidak pernah kembali sama. Bramasta tidak menyalahkan Raisa. Karena memang Raisa tidak salah. Ia tahu itu. Sebagai istri sah, Raisa berhak curiga dan berhak menuntut. Berhak mengawasi setiap napasnya. Bramasta menerimanya—karena semua itu adalah harga dari kesalahan yang ia perbuat sendiri. Dia tidak protes. Namun tetap saja, lelah itu menumpuk. Ia pulang ke rumah yang utuh secara fisik, tapi dingin secara batin. Tidak ada lagi sambutan hangat yang membuat pundaknya terasa ringan. Tidak ada suara lembut yang bertanya, “Capek, Mas?” sambil menyodorkan minuman hangat. Tidak ada tangan kecil yan

