Raisa tidak pernah benar-benar tidur sejak malam itu. Meski Bramasta memilihnya dan meski suaminya itu sedikit demi sedikit sudah kembali seperti dulu. Tetap saja, Raisa merasa tidak aman. Dia merasa suatu saat mungkin akan ada Inari yang lain yang akan datang. Meski sebenarnya, Bramasta sama sekali tidak menunjukkan sikap yang mencurigakan. Bramasta sudah berubah. Itu fakta yang tidak bisa ia bantah. Laki-laki itu tidak lagi pulang larut dengan alasan rapat mendadak. Tidak lagi sibuk dengan ponsel di sudut ruangan. Ia benar-benar pergi bekerja ke luar kota—nama-nama kota yang bisa Raisa lacak, tiket yang nyata, bukti-bukti yang terlalu rapi untuk sekadar sandiwara. Namun justru kerapian itu yang membuat Raisa semakin gelisah. Ia menatap suaminya seperti seorang penyidik menatap tersangk

