Inari belajar satu hal penting malam itu bahwa kehilangan tidak selalu datang dengan tangis dan keributan. Kadang ia datang seperti keputusan yang sudah lama dipikirkan, lalu dijalani dengan langkah pelan dan hati yang kosong. Setelah Bramasta pergi, Inari duduk lama di ruang tamu. Lampu masih menyala, tapi ia tidak bergerak untuk mematikannya. Tangannya kembali ke perutnya, refleks yang kini tak lagi ia cegah. Ada kehidupan di sana. Kecil, diam dan tidak tahu apa-apa tentang kekacauan orang-orang dewasa yang menciptakannya. Ia hamil. Kenyataan itu tidak datang sebagai kejutan besar. Ia sudah mencurigainya sejak tubuhnya tak lagi ramah pada pagi, sejak mual datang tanpa aba-aba, sejak kelelahan terasa berbeda. Tes kehamilan yang ia simpan di laci lemari membuktikan semuanya beberapa hari

