Aku memilih Raisa. Kalimat itu seharusnya terdengar seperti penyelamat, tapi yang ia rasakan justru seperti vonis. Di perjalanan pulang, Bramasta menyalakan ponsel. Ada beberapa pesan tak terbaca dari Raisa. Ia membukanya dengan jantung berdebar. Kamu di mana? Kita harus bicara. Tidak ada tanda tanya berlebihan. Tidak ada emosi yang tumpah. Itu justru membuatnya tahu kalau Raisa sedang menahan banyak hal. Ia membalas singkat. Aku dalam perjalanan. Balasan Raisa datang beberapa menit kemudian. Pulanglah. Satu kata itu membuat napas Bramasta sedikit longgar. Raisa menunggunya di ruang tamu saat Bramasta tiba. Langit sudah tertidur di kamar. Rumah itu sunyi, rapi, dan terasa asing seperti rumah yang sedang bersiap menyambut kehidupan baru yang belum tentu lebih baik. Raisa duduk d

