Waktu terus bergulir. Pada akhirnya, setelah memikirkan dengan matang. Bramasta datang ke rumah Inari saat malam hampir habis. Langit masih gelap, tapi bukan gelap yang tenang melainkan gelap seperti menahan napas. Jalanan sepi. Lampu teras rumah kecil itu menyala, sama seperti terakhir kali ia ke sini. Tidak ada tanda-tanda kehidupan selain cahaya kuning redup yang menetes ke halaman. Ia duduk di dalam mobil beberapa menit, tangannya menggenggam setir terlalu erat. Ponselnya sudah ia pegang sejak tadi, tapi ia tidak menelepon. Tidak mengirim pesan. Seolah takut bahwa satu kata saja bisa mengubah segalanya. Akhirnya ia turun. Ketukan di pintu terdengar pelan. Tidak mendesak seperti orang yang sudah siap ditolak. Pintu terbuka. Inari berdiri di sana. Ia tampak lebih pucat dari terakhir

