Bramasta sempat hilang, tugas dari kantor, mendadak sehingga dia tidak sempat memberitahu siapapun, termasuk Raisa. Bramasta juga merasa perlu untuk menarik diri dari semua kerumitan yang seolah tidak tidak memiliki jalan keluar. Sekarang, dia pulang pada hari kelima, lebih cepat dari jadwal semula. Bandara masih ramai, tapi hatinya terasa kosong sejak langkah pertama ia menjejak tanah kota itu. Mobilnya melaju lurus ke rumah. Namun begitu kunci diputar dan pintu terbuka, yang menyambutnya hanyalah kesunyian. Rumah itu rapi dan seolah tak berpenghuni. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada Raisa atau Langit. Bramasta berdiri lama di ambang pintu, dadanya terasa aneh. Ia memeriksa kamar, dapur dan kamar mandi. Semuanya kosong. Lemari Raisa terbuka sebagian, beberapa

