Bab 45 Jalan Buntu

1284 Kata

Raisa berdiri di depan rumah itu lebih lama dari yang ia rencanakan. Bukan karena ragu—ia tidak pernah ragu dengan langkah yang ia ambil hari ini—melainkan karena ia ingin memastikan tubuhnya tidak mengkhianatinya. Ia menarik napas perlahan, menghitung detak jantungnya sendiri, menenangkan getaran kecil di ujung jarinya. Ia tidak boleh terlihat lemah. Tidak sekarang. Tidak di depan perempuan ini. Rumah itu sederhana. Cat dindingnya krem pucat, sedikit mengelupas di sudut-sudut tertentu. Halamannya kecil, bersih, dengan sepasang sandal perempuan terletak rapi di depan pintu. Tidak ada kemewahan. Tidak ada kesan perempuan perebut suami orang seperti yang sering ia bayangkan selama berbulan-bulan terakhir. Justru itu yang membuat dadanya terasa semakin penuh. Rumah perempuan yang telah mer

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN