Bab 44 Langkah Berikutnya

1260 Kata

Raisa tidak pernah membayangkan dirinya duduk sendirian di teras rumah pada malam seperti ini. Bukan karena kesepian—ia tidak pernah benar-benar sendiri—melainkan karena pikirannya terlalu penuh. Lampu teras menyala temaram, menyinari pot-pot bunga yang ia rawat sendiri. Mawar putih di sudut kiri sudah mulai mekar, anggrek di dekat pintu tampak sehat. Semua terawat. Semua tertib. Rumah itu rapi, tenang, nyaris sempurna dari luar. Seperti dirinya. Angin malam berembus pelan. Raisa menyilangkan kaki, punggungnya tegak. Ia menatap layar ponsel yang gelap di tangannya lebih lama dari yang seharusnya, seolah berharap benda itu memberi jawaban tanpa perlu disentuh. Ia tidak menyesal menelepon atau mengirimkan pesan pada Inari. Yang ia sesali hanya satu hal yaitu perempuan itu masih bernapas te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN