Inari tidak langsung menjawab tawaran dari Dimas. Dimas juga tidak memaksa Inari memberikan jawaban dengan cepat. Inari berdiri di tepi pantai dengan angin asin menerpa wajahnya, dadanya masih naik turun oleh pengakuan yang baru saja ia lepaskan. Kata-kata Dimas menggantung di udara, terlalu besar untuk disentuh begitu saja. “Aku… nggak bisa jawab apa pun sekarang,” katanya akhirnya, suaranya nyaris tenggelam oleh debur ombak. “Situasiku terlalu rumit.” Dimas tidak memotong, membela diri atau mencoba meyakinkan. Dia tahu batasannya. “Aku tahu,” jawabnya pelan. Inari menoleh. “Aku nggak mau kamu ikut terseret. Aku sudah cukup bikin hidup orang lain berantakan.” “Kamu tidak berantakan,” kata Dimas. “Hidupmu saja yang sedang berat.” Kalimat itu membuat mata Inari panas, tapi ia mengge

