Inari memilih diam. Itu keputusannya sejak hari ia terbangun di rumah sakit dengan satu kenyataan yang mengubah segalanya. Ia menyimpan hasil pemeriksaan kehamilan di lipatan paling dalam tasnya, lalu memindahkannya ke laci terkunci di rumah—seolah dengan begitu, kenyataan itu juga bisa ikut terkunci. Ia tidak memberi tahu siapa pun. Tidak pada tetangga, teman, terutama tidak akan pernah pada Brastama. Namun dunia tidak pernah semudah itu. Nomor baru mulai masuk satu demi satu. Pesan singkat tanpa nama. Telepon tak dikenal di jam-jam ganjil. Permintaan pertemanan di media sosial—akun-akun yang ia tahu milik siapa meski memakai nama samaran. Inari tidak membuka satu pun. Ia menghapus, memblokir, menghindar. Kadang tangannya gemetar hanya dengan melihat notifikasi menyala. Ia takut. Bukan

